17 Juli 2024

batasnegeri.com

Membangun Indonesia dari Pinggiran

Meugang, Tradisi Penuh Suka Cita di Aceh

BatasNegeri – Meugang atau Makmeugang adalah tradisi menyembelih kurban berupa kambing atau sapi dan dilaksanakan setahun tiga kali, yakni Ramadhan, Idul Adha, dan Idul Fitri. Sapi dan kambing yang disembelih berjumlah ratusan.

Di desa, tradisi Meugang biasanya berlangsung satu hari sebelum bulan Ramadhan atau hari raya. Sedangkan di kota, meugang dilaksanakan dua hari sebelum Ramdhan atau hari raya. Biasanya masyarakat memasak daging di rumah, setelah itu membawanya ke mesjid untuk makan bersama tetangga dan warga yang lain.

masjid agung aceh

H-2 Lebaran tahun ini, masyarakat Aceh melakukan tradisi meugang. Akibat tradisi tersebut, harga sapi di Aceh mengalami kenaikan 10-15 persen dari harga biasanya. Zainuddin (70) peternak sapi asal Krueng Barona Jaya, Kabupaten Aceh Besar mengatakan, harga sapi Aceh kualitas super yang dijual dengan harga Rp 27 juta memiliki bobot daging seberat 190 kilogram, sementara sapi yang dijual peternak seharga Rp 10 juta memiliki bobot daging 30 kilogram.

“Kalau di Aceh warga lebih suka konsumsi sapi lokal, karena kualitas dagingnya lebih baik dan enak rasanya.” Kata Zainuddin.

Ketua Majelis Adat Aceh (MAA), Badruzzaman Ismail, mengatakan, makmeugang pertama sekali diperingati pada abad ke-16 masehi. Saat itu, Kerajaan Aceh dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda.

Istilah makmeugang saat itu sudah diatur dalam Qanun Meukuta Alam Al Asyi atau Undang-Undang Kerajaan. Pada hari makmeugang, diriwayatkan Sultan Iskandar Muda memerintah perangkat desa untuk mendata warga miskin, dan kemudian membagi daging dalam jumlah banyak secara gratis untuk dinikmati warga bersama keluarga.

“Pembagian daging tersebut adalah wujud rasa syukur Sultan saat itu kepada rakyatnya, sehingga Sultan membagikan rasa bahagianya itu kepada rakyat, dan tradisi ini terus bertahan di kalangan masyarakat Aceh sampai saat ini, sebagai bentuk rasa syukur,” kata Badruzzaman Ismail.

Meugang-2

Makmeugang juga memiliki nilai religius. Masyarakat Aceh yang kental dengan keislamannya mempercayai bahwa hari meugang diperingati di hari suci dan sebagai bentuk rasa syukur terhadap Tuhan yang memberikan rezeki.

Nilai filosofi lain dari tradisi meugang ini, sebut Badruzzaman Ismail, adalah sebagai bentuk nilai sosial dan yang mengingatkan kepada setiap orang untuk saling berbagi terhadap sesama.

“Dan juga nilai silaturrahmi, dimana setiap anggota keluarga yang berjauhan, pada hari itu akan berkumpul bersama dan duduk pada satu meja untuk makan bersama menikmati makanannya, sedikit dan banyak sama dibagi,” sebut Badruzzaman.

Tidak heran, sebut Badrruzaman Ismail, harga daging sapi saat hari meugang melonjak tinggi, karena memang permintaan daging sapi juga meningkat.

Meugang-3

“Zaman dulu daging sapi adalah menu makanan yang mewah, sehingga warga tidak setiap hari bisa mengkonsumsinya, hanya dihari-hari seperti ini saja warga bisa menikmati daging sapi, oleh karena itu saat meugang menu di setiap rumah tangga di Aceh didominasi daging sapi,” urai Badruzzaman.

Tidak heran juga, jika tradisi meugang ini juga menjadi saat-saat yang memberikan rasa suka cita bagi para peternak sapi, karena mereka bisa menjual dengan harga yang cukup baik, dan hasil penjualannya bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.[*]

berbagai sumber