12 Juli 2024

batasnegeri.com

Membangun Indonesia dari Pinggiran

Foto - dok. Batas Negeri

Pembangunan Waduk dan Asa Orang Kuningan

BatasNegeri – Atas nama pembangunan, penggusuran adalah sah. Soal nasib warga yang terimbas penggusuran, itu soal nanti.

Penggusuran model ini sudah lama ditinggalkan. Namun sempat dialami warga Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat, di era penjajahan Belanda. Ketika itu, delapan kampung di Kecamatan Darma, terkena proyek pembangunan waduk, yaitu Waduk Darma yang terkenal hingga sekarang.

Jauh setelah waduk itu berfungsi, pada akhirnya warga delapan desa yang kampungnya persis berada di kaki Gunung Ciremai ini, bisa menikmati manfaat ekonomi dari waduk itu. Tetapi soal ganti rugi sawah, tegalan, dan rumah serta sejumlah situs yang ikut ditenggelamkan, tidak banyak yang tahu.

Waduk Darma – dok. Batas Negeri

Waduk Darma menjadi contoh hidup tentang buruknya mekanisme penggusuran di masa lalu, dan sekaligus jadi contoh baik bagi masa sekarang tentang bagaimana mengelola manfaat waduk untuk meningkatkan kesejahteraan warga  di sekitarnya.

Foto-dok. Batas Negeri

Contoh ini penting bagi warga Kuningan, mengingat saat ini Pemerintah sedang merampungkan pembangunan waduk baru yang berjarak sekitar 20 kilometer dari Waduk Darma. Yaitu Bendungan Kuningan yang berlokasi di Kecamatan Cibeureum. Bendungan ini sedianya akan mengairi 3 ribu hektar sawah, yang sebagiannya berada di wilayah Kabupaten Brebes di Provinsi Jawa Tengah.

Warga terdampak di lima desa Kecamatan Cibeureum, memang tak dihinggapi rasa khawatir soal ganti rugi rumah dan lahan sebagaimana cerita lama Waduk Darma.

Tetapi soal bagaimana memanfatkan keberadaan sebuah waduk untuk meningkatkan pendapatan warga sekitar, pak Modil dan kawan-kawannya harus belajar ke Waduk Darma.

Pelaku utama ekonomi di sekitar waduk Darma adalah masyarakat delapan desa yang menghuni area sekitar waduk. Mereka menjadi pemilik perahu wisata, membuka rumah makan di pinggiran danau, dan menjual aneka hasil kebun kepada wisatawan. Yang lebih penting adalah, sekitar 500 KK menjadi nelayan jaring apung di waduk Darma.

Salah satu manfaat utama waduk adalah untuk mengairi sawah. Kapasitas air Waduk Darma tak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan petani sawah di wilayah Kabupaten Kuningan, yang kian tahun terus bertambah areal persawahannya.

Apalagi ketika sedang mengalami Musim kemarau panjang seperti saat ini. Banyak petani sawah terpaksa berhenti sementara. Ada juga petani yang mencoba keberuntungan, namun harus ikut menuai rasa kecewa. Lantaran sawah yang kekurangan air sangat rentan terhadap serangan hama dan penyakit.

Pak Misja yang sawahnya sangat tergantung pada pasokan air Waduk Darma, punya harapan sederhana. Hasil panennya bisa dijual dengan harga normal sehingga cukup untuk membayar buruh, membeli pupuk dan obat, serta untuk keperluan sehari-hari keluarganya.

“Panenan yang tak seberapa di musim kemarau panjang ini, jangan lagi ditimpa beras ekspor,” begitu kira-kira pinta Pak Misja.

Harapan Misja sekaligus adalah representasi tujuan pembangunan waduk. Untuk apa Presiden Jokowi membangun puluhan waduk, kalau pada akhirnya padi yang dihasilkan dari aliran waduk-waduk itu tak bisa menjadi tuan di negerinya sendiri?

Pertanyaan retorik ini akan terjawab oleh waktu. Seorang Presiden yang rela dicerca karena membangun puluhan waduk, tentu akan membela rakyat kecil yang membutuhkan waduk, daripada membela importir beras.

“Presiden Pembangun Waduk” tentu sudah punya program yang jelas dan terukur untuk mengoptimalkan manfaat waduk. karena dia tahu, waduk-waduk itu dibangun dengan uang yang dikumpulkan dari rakyat, termasuk dari rakyat kecil.

Paling tidak, dalam tiga hingga lima tahun ke depan, waduk dan peluh petani padi sudah bisa berkontribusi untuk mewujudkan kedaulatan dan ketahanan pangan Indonesia.[*]

Redaksi