17 Juni 2024

batasnegeri.com

Membangun Indonesia dari Pinggiran

Pedagang ayam segar di pasar Pagi Kabupaten Nunukan.

Pasokan Langka, Pedagang Nunukan Datangkan Ayam dari Malaysia

BatasNegeri – Menjelang Natal, pasokan daging ayam lokal di Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara yang menjadi salah satu titik perbatasan Indonesia-Malaysia mengalami kelangkaan. Hal ini membuat para pedagang terpaksa mendatangkan daging ayam dari Malaysia.

Adapun salah seorang pedagang daging ayam di Pasar Pagi, Nunukan, Hamba Timah mengaku sejak beberapa hari terakhir terpaksa mendatangkan daging ayam beku dari wilayah Tawau, Malaysia.

“Saya jual daging ayam dari Tawau karena tidak ada ayam lokal. Sementara, banyak pelanggan yang mencari,” ujar Timah, seperti dilansir Antara, Kamis (20/12/2018).

Di samping tidak adanya pasokan dari para peternak lokal, ia melanjutkan, menipisnya stok daging ayam ini juga disebabkan oleh pasokan dari Sulawesi Selatan yang sementara ini dihentikan.

Setiap harinya, Timah membeli sebanyak 400 kilogram daging ayam dari negara tetangga demi memenuhi permintaan pelanggan. Daging ayam dari Malaysia tersebut dihargai Rp38 ribu per kilogram.

“Itu pun seringkali tidak cukup, apalagi saat ini menjelang perayaan Hari Natal bagi umat nasrani. Selain itu, ayam peternak lokal belum dipanen,” tutur perempuan paruh baya itu.

Senada, salah seorang pedagang di Pasar Inhutani, Nunukan, Dedi mengaku terpaksa mendatangkan daging ayam beku atau masih hidup dari Malaysia. Hal ini dilakukan menyusul tidak adanya pasokan dari peternak lokal sejak sepekan terakhir.

“Tidak adanya daging ayam segar di daerah itu akibat ayam milik peternak lokal belum panen,” sebut dia.

Dia mengatakan, para peternak lokal kemungkinan besar baru memanen daging ayam segar mendekati Hari Natal. Sedangkan, pasokan ayam segar dari Sulawesi Selatan belum diketahui kapan akan kembali normal, setelah dihentikan sejak beberapa bulan terakhir.

Adapun daging ayam beku asal Malaysia tersebut dijual Dedi kepada pelanggannya seharga Rp38–40 ribu per kilogram.

“Beli daging ayam atau yang masih hidup dari Malaysia hanya sebagai alternatif semata untuk memenuhi permintaan pelanggan,” tuturnya.

Apabila ayam potong lokal telah dipanen, ia mengatakan tidak membeli ayam beku dari Malaysia lagi. Oleh karena itu, dia berharap ke depan ketersediaan ayam lokal selalu berkesinambungan agar tidak sampai mengalami kelangkaan seperti saat ini.

Merujuk pada kajian Bank Indonesia (BI), pola pemenuhan kebutuhan masyarakat di perbatasan memang telah lama menjadi catatan menarik. Kondisi infrastruktur yang terbatas kerap kali menjadi kendala dalam memenuhi kebutuhan pokok masyarakat perbatasan.

Kajian BI yang dilakukan di wilayah perbatasan Kalimantan Barat dengan Sarawak, Malaysia itu menunjukkan masih adanya ketergantungan masyarakat perbatasan terhadap komoditas strategis untuk konsumsi sehari-hari.

Dari Malaysia, masyarakat perbatasan Indonesia seringkali mendatangkan barang-barang konsumsi sehari-hari termasuk alat perkakas dan perlengkapan yang dibutuhkan untuk keperluan perindustrian. Sementara, ke Malaysia, masyarakat perbatasan Indonesia juga mengirim hasil pertanian dan hasil lainnya yang tidak termasuk minyak dan biji-biji tambang.

Meski demikian, bila melihat data perdagangan lintas batas di wilayah Entikong, Kalimantan Barat pada 2010 terlihat bahwa barang yang didatangkan dari Malaysia memiliki proporsi yang dominan dari konsumsi masyarakat perbatasan. Adapun komoditas rokok yang mencapai 11,06% dari total konsumsi makanan, ikan sebanyak 9,33%, sayuran 7,56%, dan minyak 4,02%.[*]

Sumber : validnews.id