17 Juli 2024

batasnegeri.com

Membangun Indonesia dari Pinggiran

NTT Menyimpan Sejumlah Destinasi Wisata Seksi

BatasNegeri – Keindahan alam yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur memang layak untuk dijelajahi. Bahkan, meski minimnya promosi dan publikasi atas potensi wisata di wilayah perbatasan. MNC Travel bersama Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) kembali menggelar kunjungan ke sejumlah wilayah perbatasan di Indonesia.

Selama lima hari empat malam, tepatnya mulai 17-21 Mei lalu, MNC Travel bersama tim MNC Media berkesempatan menjelajahi sejumlah objek wisata alam yang ada di NTT.

Namun objek wisata alam NTT kali ini, bukanlah destinasi wisata yang namanya sudah banyak dikenal masyarakat luas, seperti Pulau Komodo, Alor, Sumba, Waerebo dan banyak lagi. Tetapi, wisata yang ingin MNC Travel bantu promosi dan publikasikan yakni di Kabupaten Kupang, Belu, Malaka dan Timor Tengah Utara.

Sejumlah potensi wisata yang dikunjungi di antaranya Gua Kristal yang terletak di Kampung/Desa Bolok, Kupang Barat, Kabupaten Kupang; Bendungan Rotiklot, Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu; Pantai Wini, Desa Humusu C, Insana Utara, Timor Tengah Utara; Rumah Adat Tasain, Desa Nurobo, Kecamatan/Kabupaten Malaka; Bukit Cinta, Oesoko, Insana Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara hingga wisata belanja di Pasar Internasional (Pasar Senin, Wini) dan Pasar Tradisional Atambua.

“Jadi ini memang program kita eksplor Indonesia lebih mendalam untuk mempromosikan dan mempublikasikan. Mulai masuk ke Gua Kristal, yang sudah dikenal wisatawan lokal, tapi masih belum terawat dan tergali dengan baik oleh pemerintah setempat karena masih dikelola oleh warga seadanya,” kata Marketing and Promotion Head MNC Travel Diana Ring disela-sela jelajah wisata perbatasan di NTT.

Dia menyayangkan potensi wisata alam gua yang unik ini belum terkelola secara benar. Baik dari segi infrastruktur dan aksesibilitasnya untuk pengunjung agar menjadikan Kupang bukan hanya tempat Transit saja, tapi juga sebagai destinasi wisata baru.

“Sangat disayangkan pemerintah setempatnya belum mau menyentuh potensi wisata gua ini, minimal terlihat ada kepedulian terhadap potensi wisata yang bisa meningkatkan pendapatan asli daerah dan perekonomiannya,” katanya.

Dia mengatakan, alasan menjelajahi objek wisata yang belum terekspose, baik segi promosi maupun publikasinya dengan baik. Menurutnya, MNC Travel ini sebagai bagian dari Travel Media atau pelaku pariwisata.

“Jadi kita sebagai pelaku pariwisata harus memiliki kepedulian atau merasa terpanggil untuk bisa mengembangkan wisata Indonesia, termasuk yang belum terekspose sama sekali,” katanya.

Di Gua Kristal, tim MNC Travel dan MNC Media selain merasakan sensasi baru berendam di air jernih berwarna hijau kebiruan, juga berkesempatan wawancara langsung dengan Yesriyanto, 40, penjaga gua asal Desa Bolok, Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Sabtu (18/5/2019).

“Ya gua ini milik pribadi bukan pemerintah. Saya ini generasi ketujuh yang mewarisi gua di bawah lahan bekas perkebunan jagung ini,” katanya.

Menurutnya, air yang ada dalam gua ini merupakan air payau (campuran air tawar dan air laut). Untuk membuktikan air gua Kristal ini disebut payau, dia bersama kelompok penyelam sempat mengeksplorasi hingga ke laut.

“Air ini tembus ke laut sejauh 1 kilometer. Saat itu sempat ada tim penyelam menelusuri hingga sumber air laut,” kata pria yang sehari-harinya kini fokus mengelola potensi wisata warisan ayahnya.

Sepintas memang bila dilihat dari mulut gua, tak ada yang menyangka ada kolam air dengan gradasi warna biru muda dan tua. Apalagi, bila tak ada cahaya yang menerangi kolam.

Kolam air tersembunyi di balik celah bebatuan karst gua. Kolam itu memanjang dari utara hingga selatan dengan ukuran sekitar 10 meter x 3 meter dengan kedalaman sekitar 12 meter. Untuk menjangkaunya, perlu usaha ekstra karena harus menuruni batuan licin sekitar 20-25 meter.

Tim sendiri beberapa kali sempat terpeleset ketika menuju dasar gua. Tangan dan kaki harus mencengkeram dengan sempurna agar tak terpeleset. Namun, saat tiba di kolam, kekhawatiran karena takut terpeleset akan terbayar penuh dengan keindahan.

Setelah dari Gua Kristal, tim kemudian bergeser ke Bendungan Rotiklot yang kebetulan baru diresmikan Presiden Joko Widodo. Pasalnya, bendungan yang berada di daerah aliran sungai Mota Rotiklot, panjang sungai 06,41 kilometer dan luas daerah aliran sungai (DAS) 11,69 kilometer persegi (km2).

Bendungan Rotiklot yang bermanfaat untuk penyediaan air lahan irigasi seluas 139 hektare padi dan 500 hektare palawija, juga sebagai pengendalian banjir daerah hilir kawasan Ainiba serta suplai air baku untuk masyarakat dan pelabuhan Atapupu juga diproyeksikan sebagai destinasi wisata baru.

Sebab, tak sedikit masyarakat yang sengaja datang ke Bendungan ini hanya untuk berfoto selfie, baik di gapura pintu masuk dan di lokasi ujung jembatan terdapat banner raksasa bertuliskan Bendungan Rotiklot.

Setelah ke Bendungan, tim berlanjut menelusuri objek wisata Pantai Wini yang letaknya berbatasan langsung dengan Oekusi, Republik Demokratik Timor Leste (RDTL). Sepanjang perjalanan sebelum tiba ke pantai yang baru ditata rapih untuk menarik minat pengunjung ini, tim suguhi pemandangan perbukitan padang rumput dengan jalan berkelok-kelok.

Setelah menempuh perjalanan darat selama kurang lebih tiga jam, akhirnya tiba di Pantai Wini. Pantai ini begitu eksotis karena saat sore hari, pengunjung bakal disuguhi sunset atau matahari terbenam yang sempurna. Infrastruktur jalan di sekitar pantai cukup baik, sehingga layak pantai ini sebagai destinasi wisata favorit baru.

Meski demikian, di balik keindahan Pantai Wini, para pengunjung bakal disuguhi informasi yang mengingatkan sekaligus mengerikan yakni terdapat papan pengumuman agar tidak mandi atau berenang, sayangilah nyawa Anda, karena sudah sering kejadian pengunjung hilang di makan buaya.

“Iya terakhir pengunjung pantai warga sekitar berenang kemudian hilang karena dimakan buaya. Tim SAR dari Kupang didatangkan untuk pencarian selama seminggu tak juga menemukan jasadnya,” kata Willy, 42, warga Kabupaten Kefamenanu saat ditemui di warung kopi Libas, Pantai Wini.

Setelah menikmati keindahan pantai Wini, tim juga sempat mendatangi Rumah Adat Tasain, Kabupaten Malaka yang arsitek bangunannya mirip seperti di Wae Rebo, sebuah desa kecil di Satar Lenda, Kecamata Satarmase Barat, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Tim sempat berbincang dengan Jeremias Kepala Suku Adat Tasain. Dia mengatakan rumah adat ini dulunya dijadikan tempat penyimpanan stok makanan hasil bumi. “Karena suku di sini masyarakatnya sering berpindah-pindah, tempat ini terus dilestarikan dan bergeser fungsinya menjadi tempat yang disucikan, karena banyak terkandung nilai-nilai magis di sini,” katanya.

Tak hanya itu di hari terakhir dalam perjalanan pulang dari Wini ke Atambua, tim juga menyempatkan singgah ke Bukit Cinta, Oesoko, TTU. Dibukit ini tim menyempatkan mendokumentasikan keindahan bukit yang jadi favorit para muda-mudi berselfie dengan latar pegunungan dan perbukitan tandus yang di belakangnya terlihat hamparan laut biru.

Selain itu tim juga berkunjung untuk mencicipi wisata kuliner dan belanja. Belanja di pasar malam sambil mencicipi menu masakan seafood khas masyarakat Kupang dan Atambua. Tak lupa juga belanja oleh-oleh khas NTT yakni kain tenun dan camilan. (Haryudi/ Koran SINDO). (inews)