23 Juni 2024

batasnegeri.com

Membangun Indonesia dari Pinggiran

Menembus Hutan Belantara Demi NKRI

BatasNegeri – Medan Extrem di Perbatasan Negara, Helikopter TNI Mendarat di Helipad Jabuk, Ini Kisah para Prajurit

Jalur udara menjadi satu-satunya akses yang dapat dilalui prajurit TNI AD untuk dapat menembus belantara hutan pulau Kalimantan.

Personel Yonif Raider 303/ Setia Sampai Mati ( SSM ) Kostrad yang tergabung dalam Satgas Pamtas RI-Malaysia dihadapkan dengan kondisi serba terbatas, ditambah dengan medan extream tempat para prajurit bertugas menjaga kedaulatan negara.

Personel Satgas Pamtas RI-Malaysia Yonif Raider 303/SSM Kostrad berada di wilayah perbatasan negara, tepatnya di Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur dan Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara selama sembilan bulan, dan saat ini telah memasuki bulan ke enam.

Terdapat 450 personel yang disebar ke 20 pos terdepan, serta Pos Komando Taktis (Kotis) berkedudukan di Desa Batu Majang, Kecamatan Long Bagun, Kabupaten Mahakam Ulu; Pos Komando Utama (Kout) di Malinau dan Pos Perwakilan (Kalan) di Tarakan.

Dari 20 pos terdepan, terdapat 15 pos diantaranya hanya dapat ditempuh melalui jalur udara menggunakan helikopter, pasalnya belum ada akses darat dan air yang dapat dilalui kendaraan, mengingat jarak antara Pos Kotis, maupun permukiman warga dan Pos terdepan jaraknya sangatlah jauh.

Caption : TAPAL BATAS - Skadron 21/Sena Puspenerbad diperbantukan ke Skadron 13/Serbu untuk melakukan dorongan logistik (Dorlog) dengan menggunakan satu unit helikopter tipe helly bell 412 EP ke personel Satgas Pamtas RI-Malaysia Yonif Raider 303/Setia Sampai Mati (SSM) Kostrad di Pos terdepan perbatasan wilayah Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur.

Pos terdepan letaknya diantara pegunungan, serta dikelilingi hutan lebat. Bahkan, terdapat 12 Pos terdepan yang sama sekali tidak bertetangga dengan warga, hanya bertetangga dengan hutan dan seisinya.

Guna memenuhi kebutuhan pokok prajurit di pos, Satgas Pamtas mendapatkan bantuan dari Skadron 21/Sena Puspenerbad, yang diperbantukan ke Skadron 13/Serbu untuk melakukan dorlog (dorongan logistik) dengan menggunakan satu unit helikopter tipe helly bell 412 EP.

Helikopter tersebut membawa seberat 300 Kg logistik setiap kali pengiriman. Setiap pos mendapatkan jatah pengantaran logistik sebanyak dua kali dalam sebulan. Logistik yang diantar berupa sembako, mie instan, dan barang kebutuhan prajurit lainnya.

Namun demikian, tidak sedikit prajurit yang membawa serta barang diluar kebutuhan pokok, seperti sangkar burung. Ya, rata-rata prajurit membawa sangkar burung untuk memelihara burung di pos sebagai penghilang rasa lelah dan bosan usai menjalankan aktivitas sehari-hari pengamanan wilayah perbatasan.

Dalam sehari, pengantaran logistik dapat dilakukan sebanyak 3 sorti. Namun, bisa saja tidak sama sekali ada pengantaran jika cuaca tidak mendukung, tertundanya pengantaran logistik tidak hanya terjadi dalam sehari, namun bisa berhari-hari.

Sementara itu, jarak terdekat dari pos Kotis dengan pos terdepan yakni mencapai 55 menit, dan yang terjauh bisa mencapai 1 jam lebih.

Lettu Cpn Agus Budi Santosa pilot helikopter dari Skadron 21/Sena Puspenerbad menjelaskan, keberangkatan pengantaran logistik ke pos terdepan disesuaikan dengan kondisi cuaca, walaupun dirinya telah berulang kali menerbangkan helikopter ke pos-pos tersebut, namun dirinya tidak ingin mengambil resiko lebih dengan mamaksakan keberangkatan dalam kondisi cuaca tidak memungkinkan.

“Kalau cuaca bagus, sehari bisa tiga kali pengantaran, tapi kalau cuaca sedang tidak bagus, bisa sampai empat hari tertunda pengantaran. Untuk daerah Mahulu dan beberapa daerah Malinau semuanya melalui pos udara, jadi dorlog dilakukan dengan menggunakan jalur udara,” tuturnya.

Lanjut dirinya menjelaskan, selain kendala cuaca, medan extream juga bisa kendala. “Kesulitannya kalau di sini medan, cuaca juga kerap berubah-ubah. Ketika kita terbang cuaca cerah, tapi diperjalanan bisa saja berubah, termasuk awan tebal yang kerap menyelimuti sekitar kawasan Mahulu,” jelasnya.

Tribunkaltim.co berkesempatan ikut dalam pengantaran logistik ke salah satu pos terdepan. Pos yang dituju yakni pos Persinggahan dengan jarak tempuh mencapai 55 menit.

Setiap barang yang masuk ke dalam kabin helikopter terlebih dahulu dilakukan pengecekan, serta penimbangan. Tidak hanya barang yang timbang, namun penumpang helikopter juga harus ditimbang. Penerbangan kali ini tidak hanya untuk mengantar logistik saja, namun juga mengantar dua personel Satgas.

Pada penerbangan yang dilakukan sekitar pukul 15.15 Wita, selain pilot terdapat Co Pilot Letda Cpn Suyatno dan Technical Inspector (TI) Serka Sofyan Adi, serta tiga penumpang lainnya, yakni dua personel Satgas Serda Muh Dody dan Pratu Gusti Ralti, serta awak media Tribunkaltim.co.

Kala itu helikopter melaju dengan kecepatan mencapai 110 Knot dengan ketinggian mencapai 3.500 Ft. Belum sampai ke pos yang dituju, tepatnya sekitar pukul 15.57 Wita, Pilot memutuskan untuk berbalik arah dan kembali ke pos Kotis karena cuaca berubah drastis.

“Di depan ada awal tebal, itu kondisinya hujan. Dan, di balik awan tebal itu ada gunung. Pengantaran kita tunda dulu, hal seperti inilah yang jadi kendala pengantaran. Kalau untuk heli, kondisinya bagus,” urainya.

Akhirnya pengantaran ditunda keesokan harinya, yang juga disesuaikan dengan kondisi cuaca. Persiapan kembali sebelum keberangkatan dilakukan, mulai dari mengecek baling-baling, serta seluruh komponen lainnya, termasuk pengisian bahan bakar.

Merasa sudah siap semua, pukul 11.15 Wita helikopter kembali mengudara di langit Mahulu. Benar saja, sepanjang perjalanan nyaris tidak ada celah tanah kosong yang terlihat, semuanya hampir tertutupi hijaunya pepohonan. Bahkan, terlihat sejumlah air terjun mengalir deras di dalam hutan yang belum terjamah manusia itu.

Tidak hanya itu, hamparan pegunungan juga terlihat dengan jelas seolah tidak ingin kalah menunjukan pesonanya. Ketika helikopter telah melewati gunung ‘Jempol’, begitu awak helikopter menjuluki gunung menyerupai jempol tersebut, tanda pos yang dituju sudah semakin dekat.

Dari kejauhan terlihat asap putih sebagai tanda titik pos Persinggahan. ‘Welcome to Persinggahan’ tertulis di helipad terbuat dari kayu yang sudah terlihat usang dan jabuk. Letak helipad sendiri berada di badan gunung, sedangkan Pos Persinggahan berada di kaki gunung pinggir sungai.

Kedatangan helikopter dengan membawa serta logistik disambut dengan wajah ceria dari personel Satgas yang telah berbulan-bulan berada di hutan. Bahkan personel Satgas semakin sumringah ketika melihat orang yang baru ditemuinya, dengan ramah salah satu Prajurit menyapa awak media Tribunkaltim.co, “Mas,” sambil memperlihatkan jempol tanganya tanda ‘OK’.

Benar saja jabuk, ketika heli mendarat dengan posisi mesin masih menyala, saat proses penurunan logistik dilakukan, terdapat personel Pos Persinggahan yang terperosok di helipad karena sejumlah kayu penyangga patah.

Proses penurunan logistik tidak memakan waktu lama, hanya sekitar 4-7 menit, ketika seluruh logistik telah diturunkan, helikopter kembali mengudara menuju pos Kotis.

Lanjut Pilot Lettu Cpn Agus Budi Santosa menerangkan, hal lainnya yang juga diwaspadai oleh dirinya ketika mendarat, yakni kondisi heliped. Selain helipad yang terbuat dari kayu, juga terdapat helipad yang hanya beralaskan tanah.

Helipad yang terbuat dari kayu rata-rata kondisinya memprihatinkan. Hal itu juga yang membuat dirinya tidak dapat berlama-lama dalam proses penurunan logistik, menghindari jebolnya helipad karena beban helikopter.

“Kondisinya ya seperti itu, yang mas lihat sendiri. Ada helipad yang terbuat dari kayu, ada juga yang dari tanah saja. Ketakutan saat landing ya kayu penyangganya patah,” pungkasnya. (tribunnews)