24 Juli 2024

batasnegeri.com

Membangun Indonesia dari Pinggiran

SMA Negeri di Perbatasan, Berdinding Bambu, Beratap Terpal

SMA Negeri 2 Ketungau Tengah di Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), konon, lahannya masuk dalam area kawasan hutan lindung, sehingga bangunan permanen yang dibangun untuk sekolah tersebut harus dipindahkan ke tempat lain.

Sambil menunggu kepastian lahan, warga berinisiatif membuat bangunan darurat agar anak-anak mereka bisa menimba ilmu di sekolah tersebut.

Memang belum layak di sebut sebagai gedung sekolah. Mereka menyebutnya tenda belajar. Selama ini para siswa SMA itu menumpang di SD 8 Nanga Seran, Kecamatan Ketungau Tengah.

Nikolaus Deni, salah seorang siswa yang sekolah di tempat itu mengatakan, semula ada 32 orang. Yang bertahan sampai saat ini tinggal 20 siswa saja di kelas XII. Belasan siswa lainnya, memilih berhenti sekolah.

“Dari dulu sampai sekarang, banyak yang putus asa, berhenti bersekolah, banyak alasannya, termasuk kondisi sekolah,” cerita Deni.

Deni merasa, meski tempat belajarnya hanya beratap terpal berdinding bambu masih lebih nyaman daripada saat menumpang di SD selama hampir tiga tahun terakhir.

Komisi V DPRD Provinsi Kalbar akan meninjau langsung bangunan SMA Negeri 2 Ketungau Tengah, yang berdindingkan bambu dan beratap terpal itu.

Sudiantono, Sekretaris Komisi V DPRDnm Provinsi Kalbar mengatakan, pihaknya akan ke lapangan guna melihat langsung kondisi riil SMA Negeri 2 Ketungau Tengah tersebut, serta menggali informasi apakah masih ada bangunan sekolah yang kurang layak lainnya, terutama SMP dan SMA sederajat yang menjadi tanggungjawab Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalbar.

Gubernur Kalbar Sutarmidji memastikan akan membangun gedung permanen SMAN 2 Ketungau Tengah pada Agustus 2020 mendatang.

Pemprov, jelasnya, akan menyiapkan dana dan pembangunan melibatkan prajurit Kodam XII Tanjungpura.

Menurut Midji, kondisi pendidikan di daerah pedalaman dan perbatasan Kalbar menjadi prioritas pihaknya.

Dijelaskan Midji, SMAN 2 Ketungau Tengah sebetulnya sudah memiliki gedung.

Namun letaknya berada di area hutan lindung. Lantaran berada di kawasan hutan lindung, maka sekolah harus di pindah.

Saat ini sudah ada tanah seluas 1,5 hektare yang akan dihibahkan masyarakat.

Namun, tanah yang dihibahkan masyarakat itu belum bersertifikat atas nama pemerintah daerah, maka proses pembangunan tak bisa dilakukan.[*]