17 Juli 2024

batasnegeri.com

Membangun Indonesia dari Pinggiran

Seorang peneliti sedang menyelam bersama hiu paus atau whale sharks di Teluk Cendrawasih, Papua. Foto : Shawn Heinrichs / Conservation International

Ada Atraksi Wisata Hiu Paus dalam Dewi Bahari

Oleh: M Ambari

Konsep desa wisata (dewi) bahari menjadi program baru yang tengah dikembangkan oleh Pemerintah Indonesia di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil. Pengembangan tersebut dilakukan dengan mengambil fokus pada pengembangan pariwisata di dalam dan luar kawasan konservasi perairan dengan melibatkan masyarakat di sekitar.

Salah satu item pengembangan yang menjadi fokus, adalah pemanfaatan biota laut sebagai salah satu atraksi wisata yang ditawarkan pada dewi bahari. Adapun biota laut yang dimaksud, di antaranya adalah yang mendapat perlindungan penuh seperti hiu paus (Rhincodon typus).

Direktur Jasa Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan Miftahul Huda menjelaskan, pemanfaatan hiu paus sebagai bagian dari atraksi wisata dewi bahari, karena biota laut tersebut saat ini memiliki daya tarik istimewa di mata pecinta wisata bahari.

Selain itu, melalui pariwisata juga diharapkan masyarakat bisa semakin memahami dengan status perlindungan penuh yang diberikan kepada hiu paus. Dengan demikian, selain bisa meningkatkan nilai tambak ekonomi bagi masyarakat lokal, di saat yang sama juga bisa meningkatkan pengetahuan para wisatawan yang datang berkunjung.

“Hiu paus akan menjadi bagian dari pengembangan dewi bahari dengan tetap menjaga keberlangsungan biota (laut) tersebut,” ucap dia dalam sebuah diskusi yang dilaksanakan melalui konferensi virtual, dua pekan lalu.

Miftahul Huda menjelaskan, dengan menjadikan hiu paus sebagai bagian dari atraksi dewi bahari, itu tak hanya akan mengembangkan nilai tambah bagi ekonomi bagi masyarakat saja. Melainkan juga, atraksi akan memaksa masyarakat untuk bisa melibatkan diri sejak awal dari mulai proses perencanaan sampai pelaksanaannya.

Jika keterlibatan seperti itu bisa berjalan, dia yakin tujuan utama untuk ikut melaksanakan pelestarian hiu paus juga akan bisa dilakukan oleh masyarakat setempat. Kemudian, di saat yang sama itu juga akan memicu kepedulian masyarakat untuk bisa memperbaiki kawasan permukiman yang menjadi tempat tinggal mereka di pesisir.

Dengan melibatkan masyarakat secara langsung, Huda menyebutkan kalau pengembangan wisata hiu paus pada dewi bahari semakin menegaskan bahwa itu adalah konsep wisata dengan berbasis komunitas. Dalam prosesnya, akan ada perencanaan berbasis komunitas, pembinaan, pembangunan infrastruktur, pengembangan ekonomi, dan monitoring evaluasi.

“Konsep dewi bahari, tidak hanya mengangkat hiu paus-nya, tetapi juga akan mengembangkan desanya, sehingga tumbuh aktivitas ekonomi yang lain,” jelas dia

Pelibatan Masyarakat

Menurut Miftahul Huda, pemilihan konsep wisata berbasis komunitas dipilih untuk dikembangkan, karena Pemerintah Indonesia tidak ingin atraksi wisata hiu paus hanya bisa dinikmati manfaatnya oleh sebagian orang atau pelaku wisata saja. Sementara, masyarakat setempat justru tidak merasakan manfaatnya dan bahkan ditinggalkan dalam proses pengembangannya.

“Dengan konsep itu kita ingin melihat partisipasi desa dari sisi ekonomi dan dari sisi upaya pelestarian biota (laut) yang ada di sana,” tandas dia.

Kepala Balai Pengelolaan Sumber daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Makassar Andry Sukmoputro pada kesempatan yang sama mengungkapkan bahwa pengembangan wisata hiu paus sudah mulai dilakukan di Botubarani, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo sejak 2015 lalu. Pengembangan tersebut dilakukan setelah informasi wisatawan yang berinteraksi secara fisik dengan hiu paus menjadi viral.

Andry menjelaskan, atraksi wisata hiu paus menjadi sesuatu yang menarik di mata wisatawan, karena biota laut tersebut dikenal jinak walaupun memiliki fisik yang raksasa. Oleh itu, pengembangan wisata hiu paus menjadi pilihan, meskipun ikan raksasa tersebut statusnya sudah mendapatkan perlindungan penuh dari Pemerintah Indonesia.

Khusus untuk rencana pengembangan wisata hiu paus di Botubarani, dia menyebut kalau BPSPL Makassar sudah melakukan beberapa kali kajian yang mencakup di dalamnya adalah kajian tentang potensi dan permasalahan yang akan muncul di masa mendatang.

Selain itu, dalam kajian yang sudah dilakukan sebelumnya juga dibahas tentang model penataan zonasi laut yang akan diterapkan, serta bagaimana melaksanakan tata cara interaksi hiu paus dan bagaimana model pengembangannya yang pas untuk diterapkan dalam wisata tersebut.

“Kita juga sudah buatkan dalam bentuk road map,” kata dia.

Setelah memulai proses pengembangan hampir lima tahun lalu, masyarakat nelayan yang ada di Botubarani mulai mendapatkan pemasukan dari penyewaan perahu yang digunakan wisatawan untuk melihat hiu paus. Untuk satu paket penyewaan perahu beserta makanan untuk hiu paus, yakni kepala udang, biaya yang dibebankan kepada wisatawan adalah sebesar Rp80 ribu.

Sumber Pendapatan

Dengan pemasukan seperti itu, secara perlahan kehidupan nelayan mulai membaik karena bisa mendapatkan sumber pendapatan tambahan selain dari menangkap ikan. Kondisi itu stabil dari tahun ke tahun, karena selalu ada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan ke Botubarani.

Tercatat, pada 2017 jumlah wisatawan yang datang untuk melihat hiu paus dengan menyewa perahu mencapai 13 ribu wisatawan, dan pada 2018 menjadi 18 ribu wisatawan.

Menurut Miftahul Huda, jumlah kunjungan wisatawan tersebut yang cenderung terus naik setiap tahunnya, menjadi potensi besar untuk pengembangan wisata hiu paus di Botubarani. Selanjutnya, tinggal bagaimana masyarakat bisa memanfaatkannya melalui manajemen yang benar dengan melibatkan sumber daya manusia (SDM) yang baik.

“Sekarang tinggal bagaimana mengelolanya, biaya masuknya berapa. Perlu diinformasikan juga untuk menyewa satu paket alat selam dikenakan biaya sebesar Rp500 ribu. Bisa dibayangkan jika seandainya 30 persen wisatawan datang untuk menyewa, maka rata-rata bisa mencapai Rp500 juta hingga Rp1 miliar,” pungkas dia.

Selain di Botubarani, pengembangan ekoturisme hiu paus juga dilakukan oleh masyarakat di Desa Labuhan Jambu, Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Di sana, warga mengembangkan atraksi wisata hiu paus di perairan Teluk Saleh, karena biota laut tersebut bisa setiap hari selalu mendatangi perairan tersebut.

Menurut Senior Marine Program Director Conversation International Indonesia Victor Nikijuluw, hiu paus muncul di perairan Teluk Saleh untuk mencari makanan yang disediakan oleh bagan-bagan yang bertebaran di sana, yaitu masin atau ikan puri.

Kegiatan ekowisata hiu paus tersebut, menjadi ekoturisme pertama di Indonesia yang melibatkan masyarakat secara langsung. Ini juga sekaligus mendorong kegiatan pariwisata di NTB yang sudah ditetapkan sebagai salah satu destinasi prioritas nasional.

Victor mengatakan, keterlibatan masyarakat dalam ekowisata hiu paus, menjadi penanda bahwa mereka adalah bagian terpenting dalam pengembangan pariwisata. Di Labuhan Jambu, keterlibatan masyarakat diperlihatkan melalui pengenalan budaya Bugi melalui tur kampung pesisir, pertunjukan seni tari, dan musik tradisional.

“Tak lupa, adalah pengamatan hiu paus,” jelas dia.

Diketahui, hiu paus bisa dijumpai di sejumlah daerah di Indonesia, karena ikan terbesar di dunia itu menjadikan perairan Indonesia sebagai habitat mereka. Beberapa wilayah perairan yang biasa didatangi mereka, di antaranya di perairan Sabang (Aceh), Teluk Saleh (NTB), dan Botubarani, Bone Bolango (Gorontalo).

Kemudian, hiu paus juga biasa mendatangi perairan Talisayan, Berau (Kalimantan Timur), Situbondo dan Probolinggo (Jawa Timur), Laut Sawu (Nusa Tenggara Timur), Teluk Triton-Kaimana dan Teluk Cendrawasih-Nabire (Papua Barat).[*]

mongabay.co.id