13 Juli 2024

batasnegeri.com

Membangun Indonesia dari Pinggiran

Wisata di Perbatasan RI-Timor Leste, Menikmati Pesona Air Terjun Mauhalek di Belu

BatasNegeri – Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, menawarkan sejumlah destinasi wisata yang memukau, termasuk keindahan alam dan warisan budaya.

Salah satu daya tariknya adalah Air Terjun Mauhalek, sebuah destinasi yang mempesona bagi pengunjung yang ingin menikmati pesona alam dan keindahan air terjun berundak.

Terletak di Dusun Futumuti, Desa Raiulun, Kecamatan Lasiolat, Air Terjun Mauhalek menawarkan pengalaman wisata yang unik.

Dengan jarak sekitar 33 Km dari Kota Atambua, perjalanan menuju air terjun dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua atau roda empat dalam waktu kurang lebih 40 menit hingga 1 jam.

Perjalanan menuju air terjun dimulai dari parkiran kendaraan, diikuti dengan menuruni sekitar 100 anak tangga menuju lokasi air terjun.

Meskipun tangga tersebut dibuat dengan baik, pengunjung diingatkan untuk berhati-hati terutama anak-anak dan lansia, karena tidak semua bagian tangga memiliki pegangan atau pagar.

Pemandangan sekitar air terjun juga memukau dengan kebun pinang, dan kelapa yang ditanam rapi di sekitar tangga menuju dasar air terjun, menciptakan suasana yang menyejukkan mata.

Air Terjun Mauhalek dibentuk oleh pertemuan dua mata air, Siata dan Mauhalek, yang tidak pernah kering meskipun dalam musim kemarau.

Keunikan air terjun ini terletak pada batuan bertingkat yang dibalut lumut hijau, dengan aliran air yang menyegarkan.

Suara gemericik air yang menuruni bebatuan memberikan sentuhan alami yang menenangkan.

Pengunjung seperti Anus, seorang warga Atambua, mengungkapkan kebahagiaannya berkunjung ke Air Terjun Mauhalek, menyebut airnya jernih, sejuk, dan nyaman.

“Walaupun saya warga Atambua, saya baru pertama datang ke tempat ini, ternyata sangat bagus dan indah,” ujarnya, Senin (19/02/2024).

Anus juga berharap pemerintah desa dapat membenahi fasilitas yang masih kurang, seperti menyediakan tempat sampah di dekat kali dan menambah pagar di setiap anak tangga, mengingat pengunjung dari berbagai usia datang berkunjung.

Ia juga mengakui bahwa dirinya sangat senang berpose maupun selfi di tempat tersebut.

Pj Desa Raiulun, Alexander Dales, yang dihubungi Pos Kupang, Jumat (23/2/24) menyampaikan bahwa Wisata Air Terjun Mauhalek dikelola oleh desa melalui BUMDes. Tempat wisata ini paling banyak dikunjungi pada hari Sabtu, Minggu, dan hari libur, dengan rata-rata 100 pengunjung atau lebih setiap bulannya.

Ia juga menyampaikan bahwa tiket masuk ke Air Terjun Mauhalek termasuk parkir kendaraan, dengan harga berbeda untuk roda dua Rp 5.000, roda empat Rp 10.000, dan roda enam Rp 20.000.

“Setiap hari kita buka mulia dari pukul 07.00 hingga 18.00 Wita, dan yang paling banyak itu roda dua maupun roda empat. Pendapatan dari retribusi ini mencapai Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu per bulan,” ujarnya.

Dalam upaya memperbaiki fasilitas, Pj Desa Raiulun menyebutkan bahwa tahun ini mereka telah membangun lopo dan juga spot foto, sementara tahun depan akan dibangun pagar dan fasilitas lainnya.

Ia juga menyampaikan bahwa kedepan pemerintah Desa akan terus berkomitmen untuk menambah fasilitas, sehingga pengunjung bisa nyaman dan aman.

Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Belu, Januaria Nona Alo, menjelaskan bahwa Dinas Pariwisata hanya bertindak sebagai pengontrol, sementara pengelolaan sehari-hari dilakukan oleh Pemerintah Desa Raiulun.

Ia juga menyampaikan bahwa selain air Mauhalek ini, tidak jauh dari tempat destinasi lain seperti Fulan Fehan, Kampung adat Duarato, rumah adat Nualain, dan beberapa spot wisata lainnya.

Karena itu, menurut Nona Alo, saat berkunjung ke air Terjun Mauhalek pengunjung bisa juga berkunjung ke destinasi-destinasi ini untuk menciptakan paket wisata yang menarik.[*]

tribunnews.com