24 Juli 2024

batasnegeri.com

Membangun Indonesia dari Pinggiran

Perang Antarsuku Kerap Berkecamuk di Papua Nugini, Kenapa?

BatasNegeri – Negara tetangga Indonesia, Papua Nugini, sempat didera perang antarsuku setelah kerusuhan besar terjadi di ibu kota negara itu, Port Moresby, awal tahun ini.

Terdapat dua suku yang berseteru seperti Suku Yopo dan Suku Palinau pada perang antarsuku kali ini. Seperti dilansir dari AFP, bentrokan tersebut mengakibatkan ribuan orang mengungsi hingga berpotensi menuai “krisis kemanusiaan”.

Keduanya pun kini telah menyepakati perjanjian damai setelah dimediasi oleh tim Resolusi Nonflik Negara yang dipimpin hakim ketua Mark Pupaka di Port Moresby, Rabu (13/3).

Hal itu disampaikan oleh pemimpin perundingan perdamaian dan administrasi Provinsi Enga Sandis Tsaka.

Ia mengatakan bahwa perjanjian gencatan senjata berencana untuk ditandatangani minggu ini.

Sebelumnya, terdapat perintah pencegahan serupa yang gagal pada September tahun lalu. Kemudian otoritas setempat memutuskan untuk membawa perundingan tersebut di Ibu Kota.

Kenapa kerap terjadi perang antarsuku di negara tetangga RI, Papua Nugini?

Melansir dari laporan Associated Press, perang antarsuku pecah usai kerusuhan yang terjadi di Port Moresby dan Lae.

Sejauh ini sudah 64 orang tewas akibat bentrokan antara kelompok Yoppo dan Palinau.

Meski demikian, AP melaporkan bahwa ini bukan kali pertama perang antarsuku pecah di negara itu. Perang antarsuku justru memiliki sejarah yang panjang di Papua Nugini.

Pertikaian antar kelompok suku di negara tersebut bahkan semakin mematikan dengan masuknya senjata-senjata api secara ilegal serta semakin banyaknya penembak jitu bayaran.

Sejumlah penduduk desa menuduh bahwa pihak keamanan negara itu disuap oleh kepala-kepala suku untuk membantu mengalahkan musuh-musuh mereka yang menolak bayar uang perlindungan.

Pertikaian yang melibatkan antarkelompok suku terjadi baru-baru ini di Provinsi Enga yang kaya akan sumber daya alam tambang emas.

‘Titik api’ perang antarsuku lainnya juga terjadi di Provinsi Hela. Keduanya berada di wilayah barat Papua Nugini yang memiliki sumber daya alam melimpah.

Think thank dari Institut Urusan Nasional yang berbasis di Port Moresby, Paul Barker, menyebut konflik berbasis persaingan antar suku semakin meningkat tajam dalam satu dekade di dua provinsi tersebut.

Kelimpahan sumber daya alam kerap menjadi sumber perebutan bahkan jadi kecemburuan sosial di antara warga. Konflik pun kerap terjadi terkait masalah pendistribusian kesejahteraan di antara warga yang berbeda suku tersebut.

Salah satu sumber dari konflik antarsuku adalah perihal tuduhan penggunaan sihir atau santet oleh pihak tertentu menyusul kematian mendadak salah satu anggota suku mereka.[*]

cnnindonesia.com