13 Juli 2024

batasnegeri.com

Membangun Indonesia dari Pinggiran

Mengapa Ruang Udara Natuna di Kepri Baru Diambil Alih Sekarang?

BatasNegeri – Analis penerbangan, Gatot Raharjo, mengatakan bahwa memang negosiasi antara kedua negara sudah berjalan cukup lama, sejak 1995. Namun pada akhirnya, ICAO perlu menyetujui peralihan ruang udara tersebut.

“Waktu itu yang dianggap bisa melayani [Natuna] itu Singapura, Indonesia belum bisa. Jadi yang menentukan bisa atau tidak itu ICAO,” kata Gatot.

Karena wilayah Natuna berada di tepi perbatasan antara Singapura dan Indonesia, maka hanya satu negara yang dapat menyediakan layanan navigasi.

“Singapura di ICAO itu [tingkatannya] lebih tinggi daripada Indonesia. Jadi wajar saja kalau Singapura memang ditunjuk oleh ICAO dan Singapura mempertahankan itu,” ungkapnya.

Menurut Gatot, salah satu alasan yang mungkin mendorong keputusan ICAO untuk menyetujui kesepakatan untuk memberikan layanan navigasi wilayah Natuna di Kepulauan Riau ke Indonesia adalah nilai Indonesia yang tergolong tinggi dalam program audit ICAO dalam beberapa tahun terakhir.

Berdasarkan hasil Universal Safety Oversight Audit Programme (USOAP) yang dilakukan ICAO pada 2017 lalu, Indonesia mendapatkan nilai yang tergolong tinggi, yakni 81,5%. Angka itu jauh melebihi rata-rata dunia yang berkisar 62%. Sebelumnya, ICAO telah beberapa kali melakukan audit USOAP terhadap Indonesia.

Namun, nilai yang diraih belum melewati rata-rata dunia. Pada 2007, hasil audit ICAO hanya memberikan Indonesia 54%. Kemudian pada 2014, hasil Audit ICAO turun menjadi 45%. Kini, Indonesia sudah memiliki nilai 81,5%. Gatot mengatakan audit ICAO berikutnya diperkirakan akan dilakukan tahun ini.

“Dengan adanya ini, kalau ini memang benar sudah disetujui ICAO, berarti ICAO mengakui bahwa operator navigasi Indonesia sudah setara dengan Singapura,” ujar Gatot.

FIR itu apa?

Lalu apakah ruang udara itu? Analis penerbangan independen, Gatot Raharjo menjelaskan bahwa ruang udara atau Flight Information Region (FIR) merupakan wilayah yang kendali atas layanan navigasinya diatur oleh sebuah negara ketika pesawat atau transportasi udara lainnya memasuki suatu zona udara suatu wilayah.

“Pelayanan navigasi itu tidak sesuai dengan wilayah suatu negara. Contohnya, Indonesia juga melayani wilayahnya Dili, Timor Timur. Sebagian Filipina juga kita layani. Sebagian Australia juga kita layani, yakni Pulau Natal. Itu pertama yang menentukan adalah ICAO,” ujar Gatot.

Gatot menyebut ICAO memilih negara untuk memberikan pelayanan navigasi udara berdasarkan sejumlah kriteria, terutama dari segi operasional dan peralatan, dalam menyediakan layanan tersebut.[*]

pikiran-rakyat.com