24 Juli 2024

batasnegeri.com

Membangun Indonesia dari Pinggiran

Minat Anak Papua Masuk Polri Meningkat

Oleh: R Kambuaya*)

BatasNegeri – Penerimaan Casis Polisi Tantama dan Bintara  Reguler maupun Casis Polisi melalui kebijakan afirmasi (Casis Otsus) selama 5 tahun terakhir menunjukan tren peningkatan.

Setiap Penerimaan polisi di Papua Barat dan Papua Barat Daya menyediakan kuota sebanyak 1000 namun antusias anak-anak yang mengikuti tes bisa mencapai 2000 anak.

Tingkat minat anak-anak muda Papua untuk menjadi polisi ini merupakan wujud indikator positif. Bahwa saat ini ada banyak anak Papua mau turut menjaga Republik Indonesia.

Turut mengambil bagian dan rasa bertangung jawab. Ketertarikan anak Papua untuk menjadi polisi ini di pandang dari sudut yang lain bahwa kesadaran kebangsaan tumbuh di kalangan anak remaja.

Papua yang sering bergejolak dianggap belum tuntas dari sisi historis politik. Kemudian integrasi wilayah belum diikuti dengan integrasi sosial.

Kesadaran ini hendak ditunaikan oleh anak-anak Papua melalui tugas Tamtama dan Bintara Polri. Sekarang tinggal bagaimana kesadaran alamiah ini diakomodasi, difasilitasi dan di berdayakan.

Momentum tepat

Rekrutmen Casis Polri khususnya Polda Papua Barat pada Kuota Reguler 2024 saat ini merupakan momentum yang tepat karena bertepatan dengan semanggat lahirnya Pancasila 1 Juni 2024.

Hendaknya semangat lahirnya Pancasila ini sebagai Ideologi jalan tengah bagi NKRI untuk di manifestasikan, di wujudkan dalam bentuk kebijakan dan program nasional yang ada.

Sebagai contoh rekrutmen casis Polri harus 90% atau 80% OAP. Kebijakan khusus bahwa kuota 100 per Polresta di Papua Barat Daya hendaknya diberikan afirmasi agar banyak anak Papua mengunakan kuota yang ada.

Dengan semangat Pancasila sebagai Ideologi yang mempersatukan harus  merespon kebutuhan dan kondisi daerah.

Anak-anak Papua yang dulunya tidak berminat masuk TNI dan Polri, saat ini mereka begitu antusias untuk menjadi bagian dari Keluarga Besar Polri dan TNI yang ada.

Mimpi dan harapan anak-anak Papua ini harus dijemput, dirangkul dan diberdayakan. Terkait persoalan kekurangan tentunya bisa dibenahi selama pendidikan berjalan.

Namun apabila semangat dan harapan anak Papua untuk mengapai mimpi bersama Polri tidak difasllitasi, diwadahi bahkan diafirmasi secara baik melalui mekanisme tes yang transparan maupun akuntabel maka akan membuat harapan banyak anak muda menjadi pupus.

Jika ada kekurangan pada diri anak-anak Papua yang mengikuti seleksi Casis, hendaknya ada kebijakan untuk selektif menilai.

Jika persoalan kesehatan, akademik yang tidak fatal bagi dirinya dan pekerjaan, hendaknya diterima dan diluluskan lalu akan diberdayakan kemudian.

Anak-anak muda yang pikirannya Jernih, belum tersentuh aliran pemahaman, pemikiran, ideologi politik harus bisa di jemput, dijembatani, di tanam dan di rawat dengan baik.

Anak-anak harus di jemput harapannya, dirawat dan diarahkan.

Dunia teknologi 4:0 yang menembus batas ruang dan waktu atau conecting people bisa berdampak pembajakan generasi oleh pihak lain yang menguasai arus teknokogi dan informasi.

Kita bisa lihat, sejarah industri tentara bayaran di Amerika dalam kisah buku Black Water.

Bagaimana pemuda direkrut dan dijadikan tentara yang siap disewakan jasanya untuk misi-misi tertentu oleh pihak yang membutuhkan dan pihak yang menyediakannya.

Pemerintah dan Polda Papua Barat Daya harus bersyukur bahwa di dalam gejolak dunia yang terhubung dengan baik ini, masih ada anak muda Papua yang berbodong-bondong datang untuk memberi diri dan mengambil tangung jawab sebagai Polisi.

Sekalipun rekrutmen ini pada level terendah Tamtama atau Bintara. Status atau jabatan paling rendah di Kepolisian yang butuh 10 hingga 20 Tahun untuk naik pada karir dan level tertentu.

Casis tentu berbeda dengan Sekolah Kedinasan AKPOL, AKMIL dan lain sebagainya.

Besar harapan kami, Panitia dan Polda Papua Barat bisa mengambil intisari dan semanggat dari apa yang kami sampaikan ini agar menjadi bahan dalam menata dan mengatur dinamika sosial, politik dan keamanan serta keamanan di NKRI khususnya Tanah Papua.

Teristimewa meninjau kembali dan meluluskan sejumlah anak OAP yang sudah mengikuti seleksi hingga tahap akhir.

Inilah saluran-saluran yang tersumbat, tidak tersampaikan agar tidak terjadi bola salju yang suatu saat akan meledak dan menemukan jalannya sendiri.[*]

*)Calon Anggota DPD RI Terpilih dari Papua Barat