24 Juli 2024

batasnegeri.com

Membangun Indonesia dari Pinggiran

Diplomasi Aliran Sungai di Perbatasan Indonesia-Timor Leste

BatasNegeri – Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (FIB UNAIR) mengangkat soal diplomasi sungai di perbatasan Indonesia dan Timor Leste. 

Tema diplomasi aliran sungai itu diangkat dalam seminar nasional bertajuk “Sungai, Rempah, dan Jejak Peradaban Indonesia”. Acara yang diselenggarakan Departemen Ilmu Sejarah FIB UNAIR berlangsung Kamis, 6 Juni 2024 lalu di Ruang Siti Parwati, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga.

Seminar menghadirkan pembicara diantaranya Dr. Muslimin AR Effendi, Drs. M.Hum, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIII Dr. Sarkawi, S.S., M.Hum., serta Guru Besar Sejarah Lingkungan Universitas Jember Dr. La Ode Rabani, S.S., M.Hum. 

Ada pula Prof. Nawiyanto, M.A., Ph.D., Eni Sugiarti, S.S., M.Hum., serta Ikhsan Rosyid Mujahidul Anwari, S.S., M.A., dari Universitas Airlangga.

Eni Sugiarti dalam materinya memaparkan sejarah keberadaan pedagang Cina di Pulau Timor sejak abad ke-6 yang berperan dalam perdagangan kayu cendana.

Kayu ini menjadi komoditas penting yang diperdagangkan hingga ke Kerajaan Majapahit, sesuai catatan Chau YU Kua pada 1225 dan Chu Pan Chih di awal abad ke-13.

Kayu Cendana

Pada tahun 1515, Portugis mulai mendominasi perdagangan kayu cendana di Pulau Timor. Persaingan antara Portugis dan Belanda terus berlanjut hingga tahun 1755 saat ditandatangani Kontrak Paravicini yang membagi wilayah Timor. Tahun 1859, Portugis dan Belanda mempertegas batas wilayah melalui Treaty di Den Haag.

Eni Sugiarti juga menjelaskan mengenai Sungai Maombelon yang menjadi batas alami antara Indonesia dan Timor Leste. Sungai ini memiliki hulu di Indonesia dan mengalir melintasi kedua negara. Penggunaan bersama aliran air sering memicu konflik, terutama saat musim kering ketika aliran sungai menjadi sumber penting bagi lahan subur.

Keterlibatan masyarakat adat dalam sengketa sungai menjadi poin penting dalam seminar ini. Contoh kasus sengketa Naktuna di tahun 2017 menunjukkan peran pemimpin adat dari Indonesia dan Timor Leste dalam menyelesaikan masalah perbatasan.

Namun, dialog antar pemimpin kerajaan tradisional ini tidak selalu berhasil menyelesaikan sengketa yang ada.

Sungai menjadi sumber konflik terkait batas negara dan penggunaan air, namun juga menjadi simbol perdamaian di level masyarakat adat. Masyarakat adat sering kali memiliki cara pandang yang berbeda terhadap air, seperti konsep “Air Pamali” atau Holy Water yang memiliki makna sakral dan dihormati dalam kehidupan sehari-hari.

Seminar nasional ini memberikan wawasan mendalam mengenai peran sungai dan rempah dalam jejak peradaban Indonesia. Selain itu, seminar ini juga menyoroti bagaimana sejarah dan penggunaan sumber daya alam dapat mempengaruhi hubungan antar negara dan masyarakat. Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga berkomitmen untuk terus mendukung kegiatan akademik yang memperkaya pengetahuan sejarah dan budaya Indonesia.

Dengan memahami sejarah dan dinamika perbatasan melalui seminar ini, diharapkan dapat tercipta solusi yang lebih baik dalam mengelola sumber daya alam dan hubungan antar negara.[*]

tribunnews