14 April 2024

batasnegeri.com

Membangun Indonesia dari Pinggiran

Foto - dok. BatasNegeri

Mengenal Sota Lebih Dekat

BatasNegeri – Bila kita mengatakan Merauke, tentu yang tersirat dalam benak kita adalah lagu nasional dari Sabang Sampai Merauke karya R. Soerardjo. Merauke adalah bagian dari provinsi Papua yang konon asal muasal namanya berasal dari salah paham yang dilakukan oleh pendatang pertama.

Ketika para pendatang menanyakan kepada penduduk asli (suku Marind) apa nama perkampungan, suku Marind menyangka pendatang menunjuk Sungai Maro, maka mereka menjawab “Maro Ka Ehe” yang berarti “ini Sungai Maro”.

Sejak itulah nama Merauke terbentuk. Merauke menjadi wilayah batas Indonesia di bagian timur, sedangkan Sabang di Aceh menjadi batas paling barat. Tapal lintas batas Indonesia-PNG terletak di Sota. Nama Sota merupakan gabungan dua kata yaitu “so-ta” yang dalam bahasa setempat artinya adalah “sampai di sini”. Dristrik Sota berjarak sekitar 80 km dari kota Merauke dengan jarak tempuh 1 sampai 1,5 jam melewati jalan trans Papua yang menghubungkan Kabupaten Merauke dengan kabupaten Boven Digoel.

Sebelum sampai di Sota kita akan melewati kawasan Taman Nasional Wasur. Mata kita akan dimanjakan dengan pemandangan unik yang tidak akan kita dapatkan di bagian wilayah Papua lainya bahkan di Indonesia.

Di sepanjang jalan kita akan disuguhi pemandangan hutan kayu putih yang masih asli dengan sebagian tanahnya merupakan padang rumput serta gundukan tanah tinggi berupa rumah semut yang disebut dengan Musamus. Distrik Sota dibagi menjadi dua pemukiman blok, dimana setiap blok terdapat enam jalur.

Dengan pembagian blok antara warga pribumi dan warga pendatang yang terpisah. Aktivitas warga pibumi kebanyakan adalah berburu sedangkan pendatang yang mayoritas transmigran dari Jawa berprofesi sebagai petani dan pedagang.

Di wilayah Distrik Sota terdapat patok perbatasan berjarak kurang lebih 3 km dari jalan masuk ke arah pemukiman Distrik Sota dan merupakan patok perbatasan yang paling dekat dari poros jalan raya dibandingkan dengan patok batas lainya .

Perbatasan Sota dijaga oleh personil Satgas dari TNI AD yang sekarang diisi oleh Batalyon Infanteri 315/Grd Kodam III/Siliwangi. Selain dari aparat Satgas perbatasan di Sota juga terdapat satuan Koramil, Polsek, Imigrasi, Bea Cukai, Karantina Pertanian dan Perikanan.

Sebagai Distrik yang paling dekat dengan tapal batas negara Indonesia-PNG, Sota memiliki keunikan tersendiri yang tidak akan pernah kita temui di tempat lain di Kabupaten Merauke bahkan di Indonesia.

Patok batas RI-PNG adalah berupa pilar Meridian Monument (MM 13) yang merupakan bagian dari 52 pilar yang memanjang dari Jayapura sampai ke Kondo. Tapal batas antara Indonesia dan PNG tersebut cukup mencolok. Jalan masuk dari Indonesia ke perbatasan sudah diaspal dan disekitarnya sudah dibuat taman, sedangkan jalan masuk warga PNG ke Indonesia masih berupa jalan setapak yang hanya bisa dilewati pejalan kaki dan kendaraan roda dua.

Taman perbatasan di Sota dijadikan salah satu objek wisata yang sering dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun tamu yang berkunjung ke kota Merauke. Di sekitar patok perbatasan terdapat beberapa pasar tradisional yang menjual makanan maupun cenderamata yang ramai pengunjung terutama pada saat hari libur.

Pada umumnya tugu hanya ada satu, akan tetapi di Sota ada sebuah tugu kembar. Dari informasi yang didapat, tugu sejenis dalam bentuk dan ukuran yang sama ada dua. Tugu pertama terletak di Sabang Provinsi Nangro Aceh Darusallam yang merupan titk nol kilometer Indonesia bagian Barat dan yang kedua adalah di Sota Merauke Provinsi Papua yang berada di bagian Timur.

Tugu kembar tersebut terletak di pertigaan distrik Sota arah perbatasan RI-PNG dan jalan trans Papua Merauke-Boven Digoel. Tugu ini dibangun sebagai simbol Kesatuan Negara Republik Indonesia dari Sabang (Aceh) sampai Merauke (Papua).

Musamus adalah sebutan untuk rumah semut oleh masyarakat Merauke, meskipun sebenarnya merupakan “istana” yang dibangun oleh koloni rayap. Rayap jenis Macrotermes ini memang serupa semut dan gemar membangun sarang di hutan bertanah merah di sisi selatan pulau Papua. Musamus terbuat dari campuran rumput kering dan tanah sebagai bahan utama serta liur sebagai semen untuk merekatkanya. dibutuhkan waktu yang lama untuk membangun istana rayap ini hingga mencapai ketingiian 3-4 meter.

Keistimewaan dari rumah rayap ini adalah rancangan ventilasi yang berupa lorong-lorong yang membantu melindungi dari air hujan, dan membantu melepas panas ke udara ketika musim panas tiba.

Kita dapat mememukan Musamus di Taman Nasional Wasur dan beberapa wilayah di kabupaten Merauke termasuk di Distrik Sota. Karena berbagai keistimewaan dan keunikan yang dimilikinya, maka tidak heran Musamus dijadikan lambang daerah Kabupaten Merauke.

Filosofi dari Musamus yang menjadi simbol bagi masyarakat kota Merauke adalah “Jangan kau tanya kerjaku, tetapi lihatlah karyaku”, dan jika kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari maka saat kita melakukan suatu pekerjaan hendaknya dilaksanakan dengan tekun tanpa harus menunjukan kerja kita kepada orang lain sampai mereka dapat melihat hasil karya yang telah kita capai. [kumparan.com]