17 Juni 2024

batasnegeri.com

Membangun Indonesia dari Pinggiran

Kasus di Papua; Kami Papua, Kita Indonesia

BatasNegeri – Hitam kulit…keriting rambut…aku Papua

Hitam putih..keriting lurus…kami Papua

Biar nanti langit terbelah…kami Papua

Dua baris syair lagu Aku Papua karya Franky Sahilatua yang dipopulerkan oleh penyanyi asal Papua, Edo Kondologit, itu menjadi bermakna ketika kita terperangah dengan pemberitaan sejumlah media massa tentang kerusuhan di Papua dan Papua Barat.Respons sebagian warga Papua berupa pembakaran gedung DPRD, blokade sejumlah ruas jalan di Manokwari (Papua Barat), demo warga Papua di Sorong, dan longmarch di Jayapura yang ditulis oleh sejumlah media massa adalah pernyataan protes terkait dugaan persekusi dan rasisme terhadap mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang.

Sementara pihak kepolisian (Tribunenews.com, 19 Agustus 2019) mengatakan membawa oknum mahasiswa Papua untuk kepentingan pemeriksaan dalam kasus perusakan dan pembuangan Bendera Merah Putih ke dalam selokan.

Alhasil, Wali Kota dan Wakil Wali Kota Malang menjelaskan duduk persoalan, Gubernur Jawa Timur berkomunikasi dengan Gubernur Papua, presiden pun membuat pernyataan untuk saling memaafkan.Tapi Rabu (21/8/2019), terjadi lagi demo di Fakfak dan Timika. Tampaknya konsolidasi dan komunikasi antarpemimpin (presiden, gubernur, wali kota) dan kepala suku serta tokoh adat Papua belum membuahkan hasil yang maksimal.Akibat nila setitik rusak susu sebelanga.

Pepatah yang sarat makna ini pun menjadi tepat jika dianalogikan dengan kejadian demo Papua di sejumlah kota beberapa hari belakangan ini. Percikan api sekecil apa pun, jika itu terjadi di Papua, beritanya menjadi besar dan mendunia.

Sejarah Papua yang baru bergabung dengan NKRI pada 1963. Pada 1 Oktober 1962 pemerintah Belanda di Irian Barat menyerahkan wilayah ini kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui United Nations Temporary Executive Authority/UNTEA hingga 1 Mei 1963.Setelah tanggal tersebut, Bendera Belanda diturunkan, lalu Bendera Merah Putih dan Bendera PBB dinaikkan.

Ini menjadi salah satu indikasi bahwa Papua selalu perlu dijamah supaya bisa mengejar ketertinggalan dari wilayah lainnya yang telah merdeka sejak tahun 1945.Belum lagi kumulatif pelbagai persoalan yang belum tuntas, seperti masalah HAM, hak ulayat tanah, ekologi, kesehatan (malnutrisi, campak), pendidikan. ekonomi, dan politik, serta keberadaan perusahaan Freeport.Penyebaran berita di media sosial secepat kilat mampu menggerakan massa di kantong-kantong perekonomian dan perkantoran di Tanah Papua dan Papua Barat.

Entah berita itu benar adanya atau justru hoaks untuk membakar emosi massa.Semestinya, semua pihak dapat menahan diri untuk tidak terjebak dalam emosi berkepanjangan. Bukan “Kamu Papua” dan “Saya bukan Papua”, tetapi “Kita adalah Indonesia”.

Jika benar ada oknum mahasiswa (atau siapa pun yang merasa sebagai orang Indonesia) melakukan perusakan dan pembuangan Bendera Merah Putih (simbol negara), maka tentunya harus ditindak sesuai hukum dan peraturan yang berlaku tentang bendera negara.Namun, jika perusakan itu bukan suatu kesengajaan untuk menghina simbol nasionalisme atau tidak diketahui pelakunya, maka selayaknya perlu dilakukan pelurusan agar kejadian serupa tidak terulang lagi.

Demikian pula, jika benar ada si penyebar berita hoaks yang telah menyulut kemarahan warga Papua dan memecah belah persatuan bangsa mesti diusut dan dikenakan hukuman pelanggaran IT.Demo yang ditunjukkan oleh warga Papua merupakan bagian dari solidaritas kesukuan ketika salah seorang warganya terusik.

Keterusikan ini bukan hanya pada orang Papua, individu mana pun apalagi kelompok akan ‘melawan’ ketika ada umpatan yang tidak patut terhadap dirinya. Apalagi saat ini sorotan tajam terhadap sejumlah kasus intoleransi (ras, suku, agama, ketubuhan, dan sebagainya) yang belum tuntas terselesaikan.

Memahami Papua (dan wilayah lain di Indonesia juga–red) mesti dengan hati, cinta kasih, dan kepedulian bukan dengan umpatan, kebencian, pelecehan, ataupun kekerasan. Berlandas pada kesadaran bahwa kita satu bangsa, saudara se-Tanah Air, sakit dan senang seharusnya dirasakan bersama.Warga Papua mesti tertantang untuk giat belajar meraih cita untuk membangun Papua sekembali mereka menuntut ilmu di perantauan.

Juga, bekerja keras dengan kesempatan yang terbuka di hadapan mereka bersama saudara-saudara sebangsa.Suku-suku di Papua dan Papua Barat semestinya bersatu dan bahu-membahu membangun Tanah Papua untuk menjadi lebih sejahtera dan maju. Diperlukan juga sikap bijak untuk menyaring informasi dari media sosial agar tidak mudah tersulut emosi sebelum tahu duduk persoalan yang sebenarnya.

Di Tanah Papua dan Papua Barat juga bertinggal orang Batak, Jawa, Sunda, Bugis, Toraja, Maluku, Minangkabau, Aceh, dan hampir sebagian besar suku bangsa yang ada di Indonesia. Itu artinya bahwa orang Papua telah membuka tangan dan hatinya untuk saudara-saudara sebangsa yang berbeda suku.Jadi, kalau ada orang Papua yang tersakiti, sebenarnya juga telah menyakiti suku-suku bangsa lainnya, sebab Papua juga adalah kami. (kumparan)