17 Juni 2024

batasnegeri.com

Membangun Indonesia dari Pinggiran

Sulit Akses Internet, Siswa Perbatasan Pilih Belajar Kelompok

BatasNegeri – Sejumlah guru di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat yang berbatasan dengan Malaysia memberikan pembelajaran tatap muka berkelompok. Hal itu dilakukan untuk mengatasi kesulitan siswa mengakses internet.

“Pembelajaran tatap muka tersebut dilakukan mengingat banyak daerah pedalaman yang tidak bisa melakukan pembelajaran online karena keterbatasan jaringan internet, dan tidak memiliki handphone android,” kata Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bengkayang, Gustian Andiwinata, Rabu (26/8/2020).

Dia mengatakan, guru-guru di wilayah perbatasan tidak surut semangat meski sejumlah siswa tak memiliki telepon seluler untuk mengakses internet. Bahkan ada yang belum teraliri listrik dan tergolong siswa tidak mampu.

“Dengan segala keterbatasan itu, guru-guru berinovasi salah satunya membentuk Kelompok-kelompok Kecil dengan tidak membaurkan anak yang berbeda Zona,” ujarnya.

Beberapa daerah pedalaman di Kabupaten Bengkayang yang dimaksud itu seperti di Kecamatan Siding, Tawang, Sentabeng, dan Jagoi Babang. Di wilayah pedalaman dan perbatasan itu, para guru mendatangi kelompok siswa untuk memberikan pelajaran.

Melintasi 35 negara dengan mobil selama setahun menjadi impian keluarga Koudijs. Eelco Koudijs, Vreyedta Ilfia, Raneeshya Abelona, dan Bramantyo Aditya memulai perjalanan panjang mereka dari Pontianak, Kalimantan Barat, sejak 13 Juli 2018. Mobil mereka meluncur selama tujuh jam di Jalan Trans Kalimantan menuju perbatasan Indonesia–Malaysia di Entikong.

Eelco dan Vreyedta bergantian menyetir mobil ke Kuching, Malaysia yang ditempuh selama dua jam dari Entikong, Kalimantan Barat. Selain mengunjungi Waterfront City, mereka juga menyaksikan Rainforest World Music Festival 2018 di Serawak Cultural Village, sebuah taman dengan rumah sembilan Suku Dayak di dalamnya. Para pemusik dari berbagai belahan dunia tampil, dari Flamenco –Spanyol, musisi Rajahstan, sampai bersenandung bareng Rasa Sayange, sebuah lagu Indonesia yang sempat diklaim milik Malaysia. Destinasi mereka berikutnya di Kuching adalah Semenggoh Wildlife Centre, tempat penyelamatan orang utan dari tangan-tangan jahil manusia, lalu dilepas kembali ke hutan setelah bisa beradaptasi dengan lingkungan rimba.

Setelah sehari transit di kota tua, Melaka, untuk mengunjungi bangunan-bangunan antik seperti Saint Paul’s Church, Stadthuis, serta Cheng Hoon Teng, mereka ke Kuala Lumpur buat mengurus visa Kyrgyzstan yang tak ada kedutaan besarnya di Indonesia. Aneka makanan di Ibu Kota Malaysia merekam multikulturalisme di lidah dengan nasi ayam Hainan (Cina), roti cane (Melayu), atau martabak (India). Keragaman budaya Negeri Jiran yang multietnik terlihat pula dari berbagai ritus agama di tempat ibadah, dari kuil Hindu, vihara Buddha, hingga Masjid Jamek yang berdampingan secara damai.

Sesudah enam jam menempuh perjalanan dari Kuala Lumpur ke Penang, mereka melanjutkan perjalanan ke perbatasan Malaysia-Thailand selama tiga jam. Namun, Negeri Gajah itu tidak membolehkan mobil dari luar negeri, kecuali Malaysia, Singapura, Laos, serta Kamboja, tanpa mengurus izinnya terlebih dahulu. Keluarga Koudijs tidak mengurus izin lantaran membutuhkan 15 hari kerja, biayanya mahal ($1.500), dan mensyaratkan pemandu yang berhubungan dengan agen perjalanan. Alhasil mereka sempat hendak camping di areal parkir perbatasan, sebelum diusir petugas imigrasi Thailand. Setelah seorang teman yang tinggal di Pattaya mengusulkan pindah perbatasan, mereka baru lolos masuk Thailand.

“Hal tersebut terpaksa dilakukan sehingga murid tidak ketinggalan dan tetap mendapatkan pelajaran yang maksimal,” ujarnya.

Dia mengatakan, guru yang menggelar pembelajaran berkelompok juga diberikan kebebasan mengatur kurikulum yang digunakan dengan tetap mengacu pada kurikulum nasional dan tercapainya kompetensi dasar (KD) dari satuan pendidikan.

“Harapan kami guru-guru tetap kreatif dan inovatif untuk memberikan pembelajaran pada anak didik dengan tetap tunduk pada aturan hukum serta protokol kesehatan Covid-19,” katanya.

Dia berharap, perjuangan guru-guru untuk pergi menuju kelompok belajar murid yang sangat sulit dijangkau ini bisa mendapat perhatian dari pemerintah dengan memberikan penghasilan tambahan. Menurutnya, hampir 65 persen guru di Bengkayang saat ini telah melakukan inovasi tersebut.

“Sampai saat ini yang mengunjungi kelompok siswa sudah berkisar 65 persen dari seluruh sekolah yang ada di Kabupaten Bengkayang,” katanya. (inews)