14 April 2024

batasnegeri.com

Membangun Indonesia dari Pinggiran

Susah Sinyal Jadi Kendala Utama Guru-Guru di Perbatasan

BatasNegeri – Mengabdi di wilayah perbatasan sudah jadi tuntutan Imron Tawilah(27), salah satu pegawai negeri sipil (PNS) yang bekerja sebagai guru olahraga di pulau kecil Anambas, Desa Lingai, Kecamatan Siantan Selatan.

Baginya menjadi guru sudah jadi keinginannya sejak kecil.

Apalagi ia merasa daerah kelahirannya yakni Kepulauan Anambas perlu sosok guru yang mampu mendidik anak- anak menjadi anak yang cerdas meski terlahir di pulau yang jauh dari perkotaan.

Di usia yang masih muda, Imron panggilan sehari-harinya ia sudah menjadi seorang guru PNS, dan dengan hati sukarela mau memberi ilmu kepada anak-anak di daerah pulau yang jauh dari Kota.

“Saya ingin mencerdaskan anak bangsa, ingin punya pendidikan yang menjanjikan, bahwa mereka kelak berguna bagi bangsa, khususnya anak daerah Anambas, yang sangat membutuhkan pendidikan,” ujar Imron  kepada TRIBUNBATAM.id, Selasa (24/11/2020).

Sudah jalan 3 tahun Imran menjadi guru.

Pertama kali ia menjadi guru honorer di SMP N 6 Satqp Lingai, kemudian pada 2019 ia mulai mengajar di SDN 005 Lingai.

Desa Lingai letaknya tidak jauh dari Tarempa, Kecamatan Siantan. Untuk ke Desa Lingai, Imron harus menempuh perjalanan sekitar satu jam menggunakan kapal kayu atau biasa yang disebut masyarakat kapal pompong.

“Iya bolak balik dari Tarempa ke Lingai itu sekali seminggu, pakai kapal nelayan Desa Lingai. Di sana sudah disediakan rumah untuk guru, jadi hari Sabtu saya udah pulang ke Tarempa, Senin baru mengajar lagi,” tutur Imron.

Setiap pagi hari ia harus berangkat pukul 07.00 WIB menggunakan kapal pompong milik nelayan.

Menempuh perjalanan sekitar satu jam untuk sampai di Lingai.

Imron baru saja menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS), ia memulai karier nya sebagai guru sejak 2017 silam. Kemudian tahun 2018 ia memberanikan diri mendaftar sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), dan pada 2019 ia dinyatakan lulus PNS.

“Udah tiga tahun jadi guru, sejak 2017 lalu itu saya guru honorer, gajinya pun kadang tidak cukup karna transportasi saya dari rumah ke sana cukup mahal, waktu itu gaji saya sebelum jadi PNS Rp 2,1 juta, untuk bayar transportasi Rp 1,2 juta satu bulan, belum lagi bayar kosan dan makan itu Rp 600 ribu, jadi cukup sulit juga waktu jadi guru honor dulu,” jelasnya.

Sambil menyeruput teh hangat ia melanjutkan suka dukanya menjadi guru di daerah perbatasan.

Kendala yang sering ia alami selama menjadi guru di pulau kecil adalah sulitnya para murid dalam memahami pelajaran.

“Mereka kan karena tinggalnya jauh dari kota kadang agak sulit nangkap pelajaran yang dikasih guru. Murid nya pun tidak banyak, satu kelas cuma 3 sampai 4 orang murid. Guru yang mengajar cuma 5 orang saja,” katanya.

Lokasi sekolahnya pun masih sangat minim, akses sinyal benar-benar sulit didapatkan.

Terkadang untuk mengirim laporan saja, Imron harus pergi ke pelabuhan kapal yang ada di Desa Lingai 

“Susah sinyal sih di sana, apalagi saat belajar online sekarang, pagi-pagi saya harus segera kirim tugas murid nanti kalau sudah ada sinyal misalnya malam baru mereka kirim ke saya, masih bisa dimaklumi untuk sekarang ini,” sebutnya.

SDN 005 Lingai tempat Imron mengajar ini menampung murid sebanyak 30 orang dari kelas 1 hingga kelas 6.

Selain itu kendala yang sering ia alami saat akan mengajar ke Lingai adalah cuaca. Dikarenakan ia harus menggunakan kapal kayu ke Lingai, kondisi cuaca dan gelombang menjadi kendala yang sering ia alami.

“Pernah waktu itu mau berangkat ke Lingai tiba-tiba tidak jadi karna angin waktu itu kencang, terus gelombang kuat. Akhirnya tertunda dan tidak jadi mengajar,” katanya.

Dihari guru yang jatuh pada 25 November 2020, Imron sangat berharap anak-anak daerah bisa merasakan pendidikan yang layak meski tinggal di pulau yang jauh dari kota. Sedangkan untuk para guru yang mengabdikan dirinya di sekolah yang berada di perbatasan agar terus semangat. (tribunnews)