14 April 2024

batasnegeri.com

Membangun Indonesia dari Pinggiran

Aneka Masalah Yang Dihadapi Warga Krayan

BatasNegeri – Antrean panjang pembelian bahan bakar minyak (BBM) di dataran tinggi Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, menjadi rutinitas warga sejak dua pekan belakangan. Antrean bahkan terjadi sejak pagi dan berlangsung berjam-jam.

Tidak sedikit warga yang kecewa karena tidak kebagian meski sudah mengantre lama. Salah satu tokoh masyarakat adat Dayak Lundayeh, sekaligus anggota DPRD Nunukan daerah pemilihan Krayan, Welson, mengatakan, pemandangan ini menjadi sebuah gambaran masih terisolasinya Krayan.

“Sekarang semua sulit, jalanan hancur karena musim hujan. Kita susah dapat kebutuhan pokok, ini lagi nambah satu masalah lagi, BBM langka. Tiap hari masyarakat antre sampai panjang sekali antrean,” ujarnya, Jumat (18/12/2020).

Tergantung dengan Malaysia sejak pandemi melanda

Krayan masih sangat tergantung dengan Malaysia dalam pemenuhan kebutuhan sehari hari. Sejak lockdown akibat Covid-19, harga barang melambung tinggi. 

Sebagai contoh, harga tong elpiji 14 kg mencapai Rp 1,5 juta dari harga normal Rp 300.000. Harga gula pasir yang sebelumnya bisa dibeli dengan Rp 13.000 per kg, kini dibanderol Rp 40.000 per kg.

Harga material bangunan juga naik, semen per zak yang dalam kondisi normal bisa didapat dengan harga Rp 300.000 kini dibanderol Rp 1,8 juta per zak.

“Beginilah Krayan, kita berharap keadaan berangsur membaik, apalagi sudah dekat hari raya Natal, semoga segera ada solusi,” katanya.

Antre panjang, BBM dijatah 3 liter per orang

Sama halnya dengan penuturan Welson, Camat Krayan Induk Heberly menceritakan, saat ini Krayan memiliki masalah kompleks. Musim hujan membuat jalanan di hampir semua wilayah Krayan menjelma jadi lumpur. Ditambah suplai BBM yang tidak mencukupi untuk lima kecamatan di Krayan, tentu menambah daftar panjang masalah di wilayah perbatasan ini.

“Kita memang sedang krisis BBM, pesawat yang biasanya menyuplai 3.000 sampai 4.000 ton sudah tidak jalan. Informasinya ada permasalahan di pilotnya, visanya habis, jadi pesawat suplai penggantinya membawa BBM dalam kapasitas lebih sedikit, hanya 1,2 ton sekali angkut,” katanya.

  Harga eceran Rp 35.000 per liter

Heberly menjelaskan, Pemerintah Kecamatan Krayan mengeluarkan kartu kendali BBM untuk warga. Ini dilakukan untuk meminimalisasi keributan dan menertibkan antrean. Setiap pemegang kartu kendali mendapat jatah 3 liter BBM. Untuk mereka yang malas mengantre, ada juga penjual BBM eceran yang didatangkan dari Kabupaten Malinau, tetapi harganya cukup mahal, yaitu Rp 35.000 per liter.

“Kami sudah lakukan koordinasi dengan sejumlah pihak terkait, kami juga sudah menghubungi pihak Pertamina. Masalah ini sedang dirapatkan dan akan ada solusi dalam waktu dekat,” katanya.

Penjelasan Pertamina

Dikonfirmasi mengenai kasus Krayan yang tengah mengalami krisis BBM, Region Manager Communication, Relations & CSR Roberth MV Dumatubun membenarkan semua penjelasan dari Welson atau Camat Krayan Induk Heberly. Kendala force majeure yang tidak bisa diprediksi, semisal cuaca dan kondisi medan, menjadi tantangan tersendiri.

Keberangkatan pesawat harus ditunda karena menunggu cuaca kondusif. Pengiriman lewat darat juga tidak berbeda, mobil tangki sering kali terjebak jalan rusak. Robert menjelaskan, selama ini, pengiriman BBM ke SPBU wilayah terdepan, terpencil, dan tertinggal (3T) normalnya menggunakan moda udara Air Tractor AT 802 PK-PAY (warna kuning) kapasitas 4 KL dengan supply point dari Fuel Terminal (FT) Tarakan.

“Dikarenakan lisensi pilot perlu untuk diperbarui dan saat ini masih dalam proses, maka pengiriman BBM sementara disubstitusi menggunakan pesawat jenis Cessna dari PT Pelita Air Service (PAS) mulai 3 Desember 2020,” ujarnya.

Terkendala medan dan cuaca

Ia melanjutkan, frekuensi penerbangan dengan pesawat Cessna dua sampai tiga kali terbang dalam sehari dengan kapasitas pengiriman 1.200 liter yang dikemas dalam drum. Terdapat dua SPBU 3T di daerah Krayan, yaitu SPBU PT Semaring Jaya Sakti yang berlokasi di Kecamatan Krayan Selatan dan SPBU CV Prima Energi di Kecamatan Krayan Induk.

“Kondisi cuaca, geografis, dan medan yang berat atau rusak dari Bandara Long Bawan ke SPBU Krayan Selatan juga menyebabkan perjalanan moda angkut BBM memerlukan waktu satu hari satu malam untuk tiba di lokasi SPBU, sehingga setiap suplai per penerbangan Cessna menjadi tertunda sampai di lokasi,” jelasnya.

Robert juga tengah mengupayakan solusi jangka panjang dengan percepatan pengiriman BBM melalui pesawat baru, yakni Air Tractor AT-802 PK – PAP (warna putih) oleh PT PAS yang direncanakan tiba di Tarakan pada Sabtu (19/12/2020).

“Prinsipnya dalam hal ini, Pertamina berupaya maksimal agar masyarakat tetap terlayani BBM-nya,” tegasnya. (kompas)