13 April 2024

batasnegeri.com

Membangun Indonesia dari Pinggiran

Gempa Bumi Guncang Kepulauan Talaud, Tidak Berpotensi Tsunami

BatasNegeri – Perbatasan negara Davao di Filipina sampai Kepulauan Talaud di wilayah paling utara Indonesia diguncang gempa tektonik dengan magnitudo 7,1 pada Kamis (12/8) dini hari, sekira pukul 00.46.15 WIB. 

Kepala Badan Mitigasi Gempa Bumi dan Bencana Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Daryono menuturkan, pusat gempa itu terletak pada koordinat 6,45 derajat Lintang Utara dan 126,73 derajat Bujur Timur tepatnya di laut pada jarak 63 kilometer timur Pondaguitan, Filipina atau pada jarak 270 kilometer Utara Melonguane, Kepulauan Talaud, Indonesia, dengan kedalaman 44 kilometer.

Daryono menjelaskan, berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa yang terjadi adalah jenis gempa dangkal akibat aktivitas subduksi Lempeng Laut Filipina yang menunjam ke bawah Filipina di zona megathrust.

“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa mempunyai mekanisme pergerakan naik (thrust fault) yang merupakan ciri khas mekanisme sumber gempa di zona tumbukan lempeng di zona megathrust,” terang Daryono dalam siaran persnya. 

Daryono mengatakan, guncangan gempa ini dirasakan sangat kuat di wilayah Davao Filipina mencapai skala intensitas V-VI MMI yang berpotensi merusak. 

Sedangkan, gempa juga dan dirasakan kuat di wilayah Indonesia khususnya di Kepulauan Talaud dalam skala intensitas III-IV MMI di mana guncangan dirasakan oleh orang banyak.

“Gempa juga dirasakan di Sangihe dan Bitung dalam intensitas II-III MMI,” sambungnya. 

Menurut Daryono, belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa tersebut. Bila memang tidak ada dampak kerusakan adalah wajar, lantaran jarak pusat gempa ke daratan wilayah daratan Filipina cukup jauh sekitar 80 kilometer.

“Hasil pemodelan menunjukkan gempa ini tidak berpotensi tsunami. Hal ini disebabkan karena kedalamannya yang relatif dalam untuk dapat memicu terjadinya gangguan kolom air laut dan memicu tsunami,” jelasnya panjang lebar. 

Menurut Daryono, baru terjadi 8 kali gempa susulan. Hingga pukul 06.00 WIB, hasil monitoring BMKG baru terjadi 8 kali gempa susulan (aftershock) dengan Magnitudo minimum gempa susulan M 4,1 dan magnitudo Maksimum gempa susulan M 5,3.

Dalam catatan sejarah gempa besar di zona Tunjaman Lempeng Laut Filipina cukup banyak. 

Ini menunjukkan di wilayah tersebut sudah sering terjadi gempa besar dan merusak pada masa lalu, antara lain: Gempa merusak Kepulauan Talaud 23 Oktober 1914 (M 7,4), Gempa merusak Davao 14 April 1924 (M 8,2), Gempa merusak Davao 25 Mei 1943 (M 7,6). Gempa merusak Halmahera 27 Maret 1949 (M 7,0) dan Gempa merusak Davao 19 Maret 1952 (M 7,7).

Lalu, Gempa merusak Kepulauan Talaud 24 September 1957 (M 7,2), Gempa merusak Halmahera Utara dan Morotai 8 September 1966 (M 7,7), Gempa merusak Kepulauan Talaud 30 Januari 1969 (M 7,6) serta Gempa merusak Maluku Utara dan Morotai Morotai pada 26 Mei 2003 (M 7,0). (askara)