14 April 2024

batasnegeri.com

Membangun Indonesia dari Pinggiran

Begini Kesulitan Yang Dihadapi Satgas Pamtas di Medan Tugas

BatasNegeri – Sebagai satuan pengamanan perbatasan Indonesia – Malaysia, Batalyon Armed 18/Komposit Buritkang tak terasa telah melaksanakan operasi pengamanan selama sebulan lebih di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan dan Kabupaten Malinau. 

Diungkapkan Komandan Satgas Pamtas Yonarmed 18/Komposit Buritkang, Letkol Arm Yudhi Ari Irawan bahwa persoalan sulitnya akses komunikasi dan tingginya bahan pokok di beberapa pos dihadapi prajurit pria kelahiran Surabaya ini. 

Seperti yang terjadi di Dataran Tinggi Krayan, tingginya harga kebutuhan pokok memaksa para prajuritnya harus lebih menyesuaikan keadaan setempat, karena menurutnya hal ini merupakan amanah dan perintah yang diberikan komando atas. 

“Sebenarnya kasihan juga sama anggota yang seperti di Krayan, di sana tidak sinyal internet dan harga sembako mahalnya luar biasa. Tapi lagi-lagi ini amanah dan kami harus tunaikan, dengan bekal dan kemampuan yang ada,” ujar Letkol Yudhi kepada pusaranmedia.com. 

Daerah lainnya yang tak kalah parah, lanjut Letkol Yudhi adalah saat ia meninjau pos Labang, Sumantipal dan Lumbis yang berada di perairan sungai Lumbis Pansiangan. Di mana, sinyal telekomunikasi tak terjangkau. 

Belum lagi, posisi pos yang berada tepat di bibir sungai itu menjadikan sejumlah pos hanya dapat ditempuh melalui transportasi sungai. Harganya, melebihi harga pesawat, untuk mengunjungi tiga pos, Letkol Yudhi mengaku harus merogok kocek hingga Rp 9 juta. 

“Bayangkan harga perahu untuk ke sana (pos perbatasan) saja harus segitu biayanya. Kemudian untuk berbelanja tidak ada di sana, harus turun ke Mansalong dulu,” ungkapnya. 

Sementara itu, terkait penanganan kasus di perbatasan Satgas Pamtas bekerja sama dengan Kantor Bea dan Cukai serta Kantor Imigrasi Nunukan. Tanpa bantuan dua instansi itu, Satgas Pamtas lanjut Letkol Yudhi, masyarakat akan dengan mudah beralibi jika hal itu bukan menjadi kewenangan Satgas Pamtas dalam hal penyidikan. 

Sehingga dalam beberapa kesempatan saat personelnya menemukan kasus masuknya Warga Negara Asing (WNA) asal Malaysia, Satgas Pamtas langsung menyerahkan kepada petugas Imigrasi. 

“Jadi kata teman-teman dari Imigrasi maupun Bea Cukai, kalau komandan nangkap dan nyidik sendiri pasti kalah, tapi kalau kami langsung dilibatkan pasti gak bisa bicara lagi mereka,” ujar Letkol Yudhi. 

Dalam sebulan, kata Dansatgas, dirinya telah mengunjungi seluruhnya pos-pos pengamanan yang berada di Nunukan, pekan depan rencanannya ia akan mengunjungi pos-pos pengamanan yang ada di Malinau. 

“Kebetulan ini perdana satuan kami mengamankan dua wilayah sekaligus. Kalau sebelumnya, ada dua satuan yang berjaga, kini difokuskan satu satuan saja. Artinya tugas kita makin berat, semoga dalam delapan bulan ke depan semua baik-baik saja,” pungkasnya. (pusaranmedia)