2 Maret 2024

batasnegeri.com

Membangun Indonesia dari Pinggiran

Indonesia Menjadi ‘Pemain Utama’ Salah Satu Bahan Energi Alternatif

BatasNegeri – Direktur Godrej International, Dorab Mistry mengungkapkan Indonesia memiliki peran sentral dalam menentukan harga minyak nabati, karena menjadi eksportir terbesar dunia untuk kelapa sawit. Hal tersebut ia ungkapkan dalam acara IPOC 2023 di The Westin Resort, Nusa Dua, Bali, (02/11/2023).

“Belum lagi dengan adanya ancaman dampak el nino, sehingga reaksi Indonesia terhadap kondisi pasar menjadi sangat penting,” ungkapnya.

Dari perspektif makro, Mistry menyatakan bahwa harga minyak nabati untuk tahun depan akan dipengaruhi oleh faktor seperti perkembangan suku bunga The Fed, potensi resesi tahun 2024, penyelesaian konflik di Ukraina dan Gaza, serta fluktuasi harga dolar Amerika Serikat (dolar AS). 

Dia juga menyoroti bahwa pasokan minyak nabati dan kebijakan biofuel di Indonesia dan negara lain, seperti Brasil, akan menjadi penentu penting dalam menentukan kebutuhan minyak nabati secara global.

“Di sisi lain, jumlah pasokan minyak nabati serta mandatori biofuel di Indonesia dan negara lainnya seperti Brazil akan sangat menentukan besarnya kebutuhan minyak nabati global,” katanya.

Seorang peneliti minyak nabati global dari Oil World, Thomas Mielke menjelaskan bahwa Indonesia telah menyumbang sekitar 54 persen dari ekspor minyak nabati dunia melalui kelapa sawit. Hal tersebut ia ungkapkan pada agenda yang sama.

“Namun penurunan produksi kelapa membuat daya saing minyak nabati tersebut di pasar global menjadi memburuk,” katanya. ujarnya

Mielke memproyeksikan bahwa penurunan ekspor ini akan berlanjut selama dua tahun ke depan sejalan dengan penurunan produksi kelapa sawit Indonesia. Oleh karena itu, ia menduga akan terjadi kenaikan harga minyak nabati. 

Mielke juga menekankan jika Indonesia ingin tetap menjadi produsen dan eksportir terbesar kelapa sawit di dunia, maka peningkatan produktivitas per hektar perlu dilakukan segera, terutama dengan keterbatasan lahan yang diakibatkan oleh kebijakan moratorium.

“Peningkatan yield per hektar di tengah keterbatasan lahan akibat adanya kebijakan moratorium harus segera dilakukan jika Indonesia tetap ingin menjadi produsen dan eksportir kelapa sawit terbesar di dunia,” pungkasnya.[*]

listrikindonesia.com