17 Juni 2024

batasnegeri.com

Membangun Indonesia dari Pinggiran

Pesawat F -16 TNI AU Tangkap Pesawat Asing di Perbatasan Indonesia

BatasNegeri – Dua pesawat tempur F-16 milik TNI Angkatan Udara menangkap pesawat asing jenis Boeing, masuk tanpa izin di ruang udara Natuna, Selasa siang 2 Mei 2018. Penangkapan itu diketahui, ketika sejumlah personil Pangkalan TNI AU Raden Sadjad (RSA) Ranai, bersenjata SS-2, bersiaga penuh dilandasan. Turut bersiaga, Komandan Lanud RSA Ranai Kolonel (Pnb) Azhar Aditama.

Sebelumnya, di ruang udara Natuna, pesawat Boeing dominan putih, terus dipepet dua pesawat tempur F-16 TNI AU. Setelah terdesak, akhirnya mendarat. Lalu, pesawat Boeing digiring menuju apron Markas Lanud RSA Ranai.

Sementara dua pesawat F-16 TNI AU dengan tangkas tetap bermanuver. Hanya berjarak beberapa meter di atas landasan. Pesawat Boeing asing, masuk tanpa izin itu, berhenti. Tangga turun dipersiapkan. Sejumlah personil TNI AU, salah satu membawa anjing pelacak, masuk pesawat.

Dua orang asing, pilot dan co-pilot digiring turun, dengan tangan terborgol, tanpa perlawanan. Usai di amankan, serta diperiksa isi dalam pesawat “super jumbo” dengan anjing pelacak, dua orang asing itu di gelandang ke Markas Lanud RSA Ranai.

Celakanya, dua orang asing, logat bicara dari Jepang yang membawa pesawat itu, tak bisa berbahasa Inggris. Sehingga menyulitkan penyidik mengintrogasi. Kapten (Pnb) Prama, pilot F-16 TNI AU menceritakan kronologis kejadian penangkapan itu bermula dari pantauan Satuan Radar 212 Ranai.

Dari pantauan, langsung dilaporkan ke Komando Pertahanan Udara Nasional. Akhirnya, diturunkan dua pesawat F-16 Skuadron Udara 16 Rusmin Nurjadin Pekanbaru, Riau, salah satu pilotnya, Kapten Prama. Pesawat Boeing asing masuk tanpa izin itu, tertangkap di wilayah udara Tanjungpinang, Kepulauan Riau.

Hasil komunikasi udara, antara Kapten Prama dengan pilot Boeing diketahui, pesawat mereka mengalami kerusakan navigasi. Otomatis memasuki wilayah udara Indonesia, tanpa izin.

“Rute pesawat asing tanpa izin dari Jepang itu, akan menuju Kuala Lumpur, Malaysia. Mereka mengaku, navigasinya rusak, tak sadar masuk wilayah udara Indonesia. Kita giring, agar mendarat ke Bandara Lanud RSA Ranai. Ketinggian penerbangan, ketika ditangkap, sekitar 18 ribu feet,” kata perwira balok tiga terlihat muda itu.

Namun, Kapten Prama tak berani membenarkan, navigasi pesawat asing masuk tanpa izin itu, rusak atau hanya alasan saja. Sebagai aparat keamanan wilayah udara, ia minta pesawat itu menuju bandara milik Indonesia yang terdekat, yaitu: Lanud RSA Ranai.

“Hasil penyelidikan Tim Lanud RSA Ranai, akan diketahui, apa yang terjadi, membuat pesawat asing itu masuk wilayah udara Indonesia. Apa benar navigasinya rusak, atau ada rencana lain,” terang Kapten Prama.

Begitulah sekelumit, simulasi latihan penanganan Pelanggaran Wilayah Udara Nasional, dilaksanakan personil Lanud RSA Ranai. Giat simulasi ini, menurut Kolonel Azhar, dilaksanakan selama lima hari. Di mulai dari 30 April hingga 5 Mei 2018. Simulasi ini, berdasarkan instruksi Markas Besar TNI.

Dengan simulasi, Kolonel Azhar berharap, personilnya selalu siaga menjaga kedaulatan wilayah udara Indonesia, dari campur tangan asing.

“Darat, laut dan udara Indonesia, TNI siap siaga menjaganya,” kata perwira melati tiga akrab dengan awak media itu.

“Demi harga diri Negara Kesatuan Republik Indonesia.”

Namun, bicara wilayah udara Natuna, atau FIR (Flight Information Region) Natuna, TNI AU tetap tak bisa menjaga maksimal. Sebab wilayah udara kabupaten kepulauan perbatasan di tengah negara Asean ini, masih dikontrol Singapura dari 1946 hingga kini.

Informasi dari berbagai sumber, fee dari hasil mengelola FIR Natuna, di duga menghasilkan keuntungan mencapai Rp2 triliun pertahun. Tetapi bukan hanya fee, masalah keamanan dan pertahanan, menjadi sangat riskan.

“Ketika berkunjung ke Natuna, bukan gara-gara FIR Natuna masih dikelola Singapura, pesawat saya tumpangi harus di kawal empat pesawat tempur F-16,” alasan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto ketika kunjungan kerja ke Natuna, saat di wawancara di Bandara RSA Ranai, Senin sore 25 April 2018 lalu.

“Melainkan pesawat tempur itu sedang latihan, sekalian saja mengawal pesawat saya saat ke Natuna,” alasan jenderal bintang empat itu lagi.

Marsekal Hadi kunker ke Natuna, tak sendiri. Ia di temani istri, Nanny Hadi Tjahjanto, Ketua DPR RI Bambang Soesatyo, Ketua DPD RI Oesman Sapta Odang, anggota Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni, Kapuspen TNI Mayjen Sabrar Fadhilah, Danjen Kopassus Mayjen TNI Eko Margiyono, serta Pangkostrad Letjen TNI Agus Kriswanto.

Dari tuan rumah, tampak hadir, Gubernur Kepri Nurdin Basirun, Kapolda Kepri Inspektur Jenderal Pol Didid Widjanardi, Danlanud Ranai Kolonel (Pnb) Azhar Aditama, Danlanal Ranai Kolonel Laut (P) Harry Setyawan, Dandim 0318/Natuna Letnan Kolonel (Inf) Yusuf Rizal dan Kapolres Natuna AKBP Nugroho Dwi Karyanto.[p*]

datariau.com