23 Juni 2024

batasnegeri.com

Membangun Indonesia dari Pinggiran

Tari Likurai dan Sasando Jadi Pembuka KMPA 2019

BatasNegeri – Kementerian Pariwisata ( Kemenpar) memastikan, selain mengundang band d’Masiv dan penyanyi Gerson Oliveira (Timor Leste), Konser Musik Perbatasan Atambua (KMPA) 2019 akan menghadirkan seni dan budaya khas Nusa Tenggara Timur (NTT).

“KMPA 2019 akan semakin meriah dengan Tari Likurai dan Musik Sasando. Keduanya memang khas dari NTT. Publik sudah sangat mengenal dua budaya ini,” ujar Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizki Handayani, di Jakarta, seperti dalam keterangan tertulisnya, Kamis (21/2/2019).

Menurut Rizki, pertunjukan seni dan budaya NTT tersebut dijadwalkan tampil di KMP 2019 selama dua hari berturut-turut. Tari Likurai dan musik Sasando akan tampil sebagai pembuka penampilan d-Masiv dan Gerson. Adapun, pelaksanaan KMPA sendiri akan digelar pada 8-9 Maret 2019, di Lapangan Umum Simpang Lima, Atambua, Belu, NTT.

Perlu diketahui, Tari Likurai adalah tarian perang yang kerap digunakan sebagai ungkapan syukur atau kegembiraan. Tarian ini juga sering menjadi media menyambut kedatangan tamu penting. Dibawakan oleh masing-masing 10 penari pria dan wanita.

Gerak penari wanita didominasi oleh gerakan tangan yang memainkan kendang kecil. Kedua kakinya pun menghentak bergantian, sementara tubuhnya melenggak ke kanan dan kiri sesuai irama.

Sedangkan gerakan penari pria didominasi permainan pedang. Posisi kedua kaki juga sama-sama menghentak hingga terlihat dinamis. Dinamika menjadi berwarna karena ada gerakan merunduk dan berputar.

“Tari Likurai ini luar biasa. Gerakannya indah. Kehadiran Tari Likurai ini akan menguatkan warna terbaik NTT sebagai destinasi wisata,” terang Kiki, sapaan Rizki Handayani.

Kiki menambahkan, prestasi besar banyak dibukukan oleh Tarian Likurai. Tak hanya itu, pertunjukan tarian ini selalu dikemas menjadi festival dan selalu dibanjiri wisatawan, sehingga menjadi aset penting pariwisata NTT.

Untuk diketahui, pada Oktober 2017 Tari Likurai pernah masuk rekor Museum Rekor Indonesia (Muri) karena dibawakan oleh 6.000 penari di Bukti Fulan Fehan. Tarian ini pernah pula tampil pada Opening Ceremony Asian Games 2018 di Jakarta.

Adapun Sasando, kata Kiki, merupakan alat musik tradisional NTT dengan dawai. Secara harfiah, Sasando artinya alat yang bergetar atau berbunyi. Bentuk alat musiknya pun khas, yakni dengan bagian utama berupa tabung panjang dari bambu.

Sasando, alat musik khas Rote, Nusa Tenggara Timur.

Di bagian tengahnya ada fret melingkar, sementara dawai-dawainya direntangkan dari atas ke bawah. Adapun untuk pembungkus menggunakan anyaman dari daun lontar.

“Sama seperti Tari Likurai, Musik Sasando juga terkenal. Suara yang dihasilkan dari alat musik tradisional ini khas dan indah,” tegas Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional III Kemenpar Muh. Ricky Fauziyani.

Dengan keunikan Musik Sasando dan Tari Likurai, Ricky  yakin kedua seni budaya NTT ini akan menjadi pertunjukan pembuka yang bagus pada KMPA 2019. “Dengan komposisi seperti ini, kami optimistis KMPA 2019 akan menarik arus wisatawan Timor Leste dalam jumlah besar,” jelas Ricky.

Sementara itu, Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mengatakan, Tari Likurai dan Musik Sasando akan membuat KMPA 2019 menjadi lebih khas. “Kami tunggu semuanya di KMPA 2019. Silahkan nikmati beragam budaya, dari kekayaan tradisonal sampai kontemporer. Ada banyak kemeriahan yang disajikan sampai malam setiap harinya,” tutupnya.[*]

(kompas.com)