23 Juni 2024

batasnegeri.com

Membangun Indonesia dari Pinggiran

ilustrasi-Antara

Produk Pertanian Indonesia Sukses Merambah Pasar Mancanegara

BatasNegeri – Selama era pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla, capaian pembangunan sektor pertanian meningkat signifikan.

Kementerian Pertanian (Kementan) mampu menunjukkan hasil kinerja positif. PDB sektor pertanian pada periode 2014-2018 naik Rp 400 triliun sampai Rp 500 triliun dan total akumulasi mencapai Rp 1.370 triliun.

Salah satu faktor yang mendongkrak peningkatan PDB pertanian adalah peningkatan ekspor produk pertanian.

Capaian itu berkat berbagai upaya Kementan yang membuat program kerja dan terobosan nyata guna mendongkrak pasar ekspor pertanian ke mancanegara. Komoditas pertanian Indonesia yang sangat beragam dan memiliki banyak keunggulan dikembangkan sedemikian rupa untuk kesejahteraan para petani.

Pada semester pertama tahun lalu, empat hasil produksi pertanian dari bumi Nusantara masuk dalam sepuluh ekspor komoditi utama Indonesia ke negara-negara di kancah internasional. Keempat produksi komoditas pertanian tersebut adalah karet dan produk karet, kelapa sawit, kakao, dan kopi.

Berdasarkan data yang dirilis Kementerian Perdagangan, periode Januari-Juni 2018, ekspor sawit ke 10 negara tujuan ekspor (antara lain India, Pakistan dan RRC) mencatat nilai US$ 5.447,6 juta. Karet dan produk karet yang diekspor ke 10 negara terbesar seperti Jepang, AS dan RRC, membukukan nilai ekspor US$ 2.332,7 juta.

Sementara dua komoditas pertanian lainnya yaitu kakao dan kopi, pada periode yang sama membukukan nilai ekspor hampir mencapai Nilai ekspor kakao mencapai US$ 700 juta.

Nilai Ekspor Pertanian Naik 25,19 Persen

Peningkatan ekspor produk pertanian tersebut berkontribusi positif terhadap kenaikan nilai ekspor nasional pada semester pertama tahun 2019. Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada 24 Juni 2019, nilai ekspor pertanian naik 25,19% dibandingkan tahun lalu (year on year). Pasar ekspor produk pertanian Indonesia tampak menguat hingga ke negara-negara Eropa.

“Nantinya ini akan jadi prestasi luar biasa untuk masa depan hasil pertanian Indonesia. Yang selama ini dikenal sering impor, jadi ekspor,” ucap Aji Mirza, Ketua Komite II DPD RI pekan lalu.

Ia berharap, capaian di sektor pertanian ini dapat didukung semua komponen bangsa sehingga akan lebih banyak lagi komoditas yang berhasil di ekspor.

Tidaklah berlebihan kalau ekspor produk pertanian Indonesia menjadi andalan pertumbuhan ekonomi nasional. Sejak 2014, Indonesia juga sudah mengalami surplus perdagangan produk pertanian yang berada di level tinggi di Eropa, terutama Spanyol dengan surplus perdagangan rata-rata 1,18 juta ton pertahun atau meningkat 6,31%.

Berdasarkan data yang dihimpun Kementerian Pertanian, lalu lintas ekspor produk pertanian ke Belanda selama empat tahun terakhir meningkat 1,84% pertahun dengan rata-rata ekspor sebesar 3,13 juta ton pertahun, sedangkan dengan Spanyol, surplus perdagangan meningkat 6,81% dengan rata-rata 1,18 juta ton pertahun. Peningkatan kerjasama juga terjadi dengan negara Belgia, Swedia, Denmark, dan Yunani.

Sukses ekspor produk pertanian itu berkat berbagai terobosan dan kebijakan yang telah ditelurkan oleh Kementan, antara lain mempermudah perizinan eskpor dengan waktu pengurusan singkat, yakni sekitar 3 jam. Padahal sebelumnya waktu perizinan bisa memakan waktu 312 jam.

“Kami telah memiliki sistem layanan karantina jemput bola (inline inspection) yang akan turut mendukung pembangunan kawasan pertanian berbasis keunggulan komparatif dan kompetitif. Selain itu sistem ini juga langsung mengatur registrasi kebun, sertifkasi packaging house, dan pembinaan mutu antara eksportir, petani dan Atase Pertanian sebagai market intelegent,” terang Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan Kuntoro Boga Andri.

Pemerintah diharapkan akan terus mendorong peningkatan ekspor produk pertanian melalui berbagai kebijakan dan program terobosan seperti kemudahan proses ekspor, perbaikan sistem layanan karantina dan membangun kawasan pertanian berbasis keunggulan komparatif dan kompetitif. Disamping itu perluasan jenis komoditas dan tujuan pasar ekspor ke negara-negara tertentu dengan diplomasi juga penting untuk dilakukan. Peningkatan nilai ekspor yang semakin meningkat, layaknya juga diikuti dengan meningkatnya kesejahteraan petani. [ed]