17 Juni 2024

batasnegeri.com

Membangun Indonesia dari Pinggiran

Foto-dok.bnpp

Rumah ‘Dua Negara’ di Pulau Sebatik, Kini Sepenuhnya Masuk Indonesia

BatasNegeri – Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) merupakan salah satu wilayah yang berbatasan langsung dengan Malaysia.

Berbagai permasalahan yang menyangkut perbatasan wilayah antarnegara kerap muncul. Contohnya, Provinsi ini, tepatnya di Sebatik, Kabupaten Nunukan, terdapat rumah warga yang berdiri di dua wilayah negara., yaitu bagian depannya di wilayah Indonesia, sementara bagian belakangnya masuk wilayah Malaysia.

Kini seluruh bagian rumah tersebut resmi menjadi wilayah Indonesia. Hal itu dikemukakan oleh Asisten Deputi Pengelolaan Batas Negara Wilayah Darat Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP), Edy Supriyanta. Ia mengatakan masuknya seluruh bagian rumah itu menjadi wilayah Indonesia berawal dari dibangunnya 13 pilar utama baru.

sebatik

Ketiga belas pilar itu dibangun di daerah Outstanding Boundary Problem (OBP) di Pulau Sebatik pada segmen East Pillar sampai West Pillar di Kabupaten Nunukan, Kaltara.

“Yang jelas patoknya sudah dipasang dan kemarin ada beberapa rumah yang masuk wilayah Malaysia yang di (Desa) Aji Kuning tapi setelah kita pancangkan patok-patok itu setelah diukur dan disepakati kembali kemudian dipasang patok itu akhirnya masuk ke wilayah Indonesia,” kata Edy seperti dilansir situs BNPP, Selasa (24/9/2019).

Diketahui, pemasangan pilar-pilar itu merupakan hasil survei bersama BNPP dengan pihak TNI AD serta pihak Jabatan Ukur dan Pemetaan Malaysia. Menurutnya, dengan pembangunan 13 pilar ini, wilayah perbatasan antara RI dengan Malaysia semakin jelas.

Foto-detik.com

“Saya melihat langsung persis itu. Termasuk yang ada, rumah yang ruang tamunya masuk di wilayah Indonesia dan dapurnya masuk ke Malaysia, sekarang masuk ke Indonesia,” ungkapnya.

Dikonfirmasi Koran Kaltara, Kepala Biro Pengelolaan Perbatasan Negara Setprov Kalimantan Utara Samuel ST Padan mengaku belum mendapatkan informasi terkait hal itu. Pasalnya, hal yang berkaitan dengan batas negara ditangani langsung oleh pusat.

“Saya belum tahu persis infonya itu. Karena tim survei masih bekerja sampai November nanti,” jawab Samuel melalui pesan WhatsApp, Kamis (26/9/2019).

Sementara itu, Kepala Desa Aji Kuning, Kecamatan Sebatik Tengah, Nunukan, Syarifuddin mengakui bahwa beberapa waktu lalu ada tim dari pusat yang turun langsung di patok perbatasan yang berada di desanya. Hanya saja, ia masih enggan berkomentar banyak. Pasalnya, keputusan itu berkaitan dengan kebijakan dua negara.

“Artinya begini pak, menurut kesepakatan, memang sudah ada antara kedua pihak. Pokoknya sudah ada kesepakatan, sudah dari Indonesia dan Malaysia, sudah dipasang sementara patok dua,” katanya saat dihubungi via telepon.

Di kalangan masyarakat setempat, lanjutnya, kini tengah ramai diperbincangkan. Khususnya status rumah ‘dua negara’ yang sebelumnya sering diberitakan melalui media.

“Sudah bukan ‘dua negera’, informasi begitu. Kalau kembali ke masyarakat pasti banyak persepsi. Kalau kedua negara sudah sepakat, tidak  ada yang bisa komen. Apalagi ada dipasang sudah patok. Waktu pemasangan, saya juga ada di situ,” ungkapnya.

Hanya saja, Syarifuddin belum mengetahui pasti patok yang dipasang itu bersifat tetap atau sementara. Apalagi patok tiga yang selama ini menjadi acuan masih terpasang sampai saat ini. Termasuk pos perbatasan juga masih berada di titik yang sama. “Infonya akan ada lagi tim yang turun. Saya belum bisa beri komentar banyak. Kalau mau ditemani turun melihat langsung, bisa saja,” pungkasnya. [*]

korankaltara.com