14 April 2024

batasnegeri.com

Membangun Indonesia dari Pinggiran

Strategi Membangun Lumbung Pangan Melalui Wilayah Perbatasan

Oleh: Prof. Dr. Ir. Rubiyo, M.Si Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Ketua DPP LDII Korbid Pengabdian Masyarakat

BatasNegeri – Pada Sabtu, 16 Oktober 2021, merupakan puncak peringatan Hari Pangan Sedunia atau sering disebut World Food Day. Tidak cukup memeriahkan jenis makanan dan pola konsumsi pangan, yang sangat penting hari pangan sedunia ini adalah untuk memberikan kesadaran, bahwa masih banyak masyarakat di desa maupun di kota yang belum bisa ikut menikmati perayaan ini. Mengapa demikian? Karena hal ini disebabkan masih banyaknya masyarakat yang menderita kelaparan. Terkait dengan hal tersebut lumbung pangan yang dulu pernah ada dan berjaya sudah waktunya di bangun kembali. 

Selaras dengan Tema Hari Pangan Sedunia tahun ini yaitu “Safe Food Now For a Healthy Tomorrow”. Tema ini didasarkan untuk menghargai individu yang telah berkontribusi untuk menciptakan lingkungan yang berkelanjutan. Dimaksudkan agar tidak ada satu orang pun yang dibiarkan, untuk tidak bisa mencari makan dan mengalami kelaparan. Negara Indonesia terkenal dengan tanahnya yang subur “Gemah Ripah Loh Jinawi” tersedia banyak keragaman genetik flora dan fauna yang tumbuh dan berkembang di gugusan pulau nusantara. Bahkan Indonesia memiliki flora dan fauna yang identik dengan yang ada di negeri tetangga, yang umumnya terdapar di daerah wilayah perbatasan

Geografis Indonesia yang luas membuat Indonesia memiliki wilayah-wilayah yang berbatasan dengan banyak negara.  Wilayah perbatasan merupakan wilayah yang lokasinya berbatasan dengan negara tetangga, yang secara geografis terdiri dari perbatasan darat dan laut.  Serta berada di 13 provinsi yang mencakup 41 kabupaten dan 147 kecamatan.  Indonesia memiliki perbatasan darat dengan Malaysia, Timor Leste dan Papua Nuigini sepanjang 3.093 km. Sementara, perbatasan lautnya dengan 10 negara, yaitu India, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Filipina, Republik Palau, Australia, Timor Leste dan Papua Nugini (Raharjo, 2013).  Daerah perbatasan yang sangat luas menuntut pemerintah Indonesia untuk menyejahterakan masyarakatnya demi menjaga kedaulatan negara dari ancaman negara lain. Namun kondisi yang ada seringkali menunjukkan keadaan yang sebaliknya, di mana daerah perbatasan dipandang sebagai wilayah terluar dan kurang diperhatikan. Akibatnya, pembangunan wilayah perbatasan umumnya tertinggal dibandingkan daerah Indonesia lainnya, bahkan tingkat perkembangan perekonomiannya relatif sangat rendah.

Wilayah perbatasan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang pada hakikatnya adalah “beranda terdepan dari NKRI serta memiliki arti sangat penting dan strategis, baik dari perspektif pertahanan‐keamanan, maupun perspektif ekonomi, sosial, dan budaya, di mana masing‐masing wilayah memiliki karakteristik yang berbeda antara satu dengan lainnya.  Secara kondisional, wilayah perbatasan Indonesia umumnya masih terisolir dan tertinggal, selain disebabkan oleh faktor geografis serta terbatasnya fasilitas pendukung pemenuhan kebutuhan dasar, khususnya kebutuhan sosial ekonomi, juga secara demografis jumlah penduduk di wilayah perbatasan sangat minim.  Oleh karena itu, arah kebijakan utama pembangunan yang tertuang dalam Nawacita ketiga, yaitu membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat wilayah perbatasan dalam kerangka NKRI. Di daerah perbatasan sering terjadi ancaman kekurangan pangan karena distribusi ke daerah tersebut terkendala oleh masalah transportasi dan cuaca.  Hasil kajian Bappenas (2006), menunjukkan aspek utama yang menjadi perhatian dalam membangun wilayah perbatasan adalah: (a) pemenuhan kebutuhan dasar manusia utamanya pangan, sandang, dan papan, (b) pemenuhan askes masyarakat terhadap layanan kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur, (c) peningkatan partisipasi dan akuntabilitas publik terhadap program pembangunan, dan (d) kearifan lokal terkait sosial budaya, kondisi geografis, dan keunikan komunitas. Dalam hal ini, sektor pertanian dapat menyumbang peran pada peningkatan pemenuhan kebutuhan masyarakat perbatasan khususnya terkait dengan pangan.

Dilihat dari letak dan potensinya, wilayah perbatasan memiliki prospek yang sangat strategis dan menguntungkan untuk dikembangkan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi. Salah satunya adalah potensi sumberdaya alamnya yang belum dieksploitasi dan dimanfaatkan secara tepat dan optimal, di samping letaknya yang berada di perbatasan dengan negara tetangga. Wilayah perbatasan memiliki potensi lahan yang luas untuk produksi beragam komoditas pertanian khususnya tanaman pangan guna mendukung ketahanan pangan nasional, dan bahkan untuk ekspor.  Aneka ragam komoditas pertanian terutama tanaman pangan sudah diusahakan petani di wilayah perbatasan meskipun beragam antar wilayah perbatasan, baik jenis maupun volume dan produktivitasnya.  Dari segi produksi dan kebutuhan pangan di wilayah perbatasan terutama padi, jagung, daging dan sayuran, pada umumnya masih defisit, hanya beberapa kabupaten saja yang sudah surplus untuk komoditas tertentu.  Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan Lumbung Pangan wilayah Perbatasan (LP-WP), perlu diarahkan pada peningkatan kapasitas produksi untuk pemenuhan kebutuhan wilayah setempat dan kelebihannya dapat diekspor ke negara tetangga.

Membangun wilayah perbatasan menjadi lumbung pangan berorientasi ekspor diharapkan dapat mengangkat citra wilayah perbatasan dan merupakan langkah strategis, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang sekaligus mengurangi kesenjangan kesejahteraan antar wilayah. Pengembangan LP-WP dimaksudkan sebagai upaya meningkatkan produksi pangan di wilayah perbatasan, agar mampu mencukupi kebutuhan pangannya sendiri. Bahkan, hasilnya dapat diekspor ke berbagai negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Brunei, Filipina, Papua Nugini dan Timor Leste dengan semangat “Indonesia Feed the World”. Sasaran utama pengembangan LP-WP adalah: (i) Makin stabilnya ketahanan pangan; (ii) Tumbuh dan berkembangnya investasi dan ekspor pangan; (iii) Berkembangnya kegiatan sosial dan ekonomi di wilayah perbatasan. Kondisi wilayah perbatasan yang unik dengan permasalahan pengembangan yang cukup kompleks memerlukan dukungan inovasi dan kebijakan khusus.   

Wilayah perbatasan merupakan “beranda terdepan dari NKRI“ yang memiliki arti sangat penting dan strategis, dari perspektif ekonomi, sosial, dan budaya, karena potensi lahannya luas untuk areal produksi pertanian khususnya komoditas pangan guna mendukung ketahanan pangan guna mendukung ketahanan pangan tapi belum dieksploitasi dan dimanfaatkan secara optimal. Selain itu, karena letaknya yang berada di perbatasan dengan negara tetangga, maka hasil produksi komoditas pangannya mudah diekspor dengan biaya relatif murah. Hal ini pada gilirannya dapat meningkatkan perekonomian wilayah dan kesejahteraan masyarakat di wilayah perbatasan.

Sebagai langkah strategis mendorong pertumbuhan ekonomi, sekaligus mengurangi kesenjangan kesejahteraan antar wilayah, pengembangan pertanian di wilayah perbatasan menjadi lumbung pangan membutuhkan dukungan inovasi pertanian dan kebijakan khusus, mengingat keunikan wilayahnya dan berbagai masalah dan kendala yang cukup kompleks. Untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi serta diversifikasi produksi pangan di wilayah perbatasan, perlu didukung oleh pengembangan model atau sistem usaha pertanian yang bersifat spesifik wilayah mengingat adanya keragaman kondisi wilayah, baik bio-fisik lahan maupun sosial budaya dan ekonomi masyarakatnya. Melalui pengembangan model atau sistem usaha pertanian spesifik wilayah perbatasan tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktivitas, efisiensi produksi dan daya saing hasil pangan di wilayah perbatasan. (kompasiana)