2 Maret 2024

batasnegeri.com

Membangun Indonesia dari Pinggiran

Asal-usul Rohingya dan Kenapa Mereka Mengungsi?

BatasNegeri – Rohingya adalah populasi minoritas Muslim yang sebagian besar tinggal di negara bagian Arakan, di Myanmar (Burma). Namun, seperti apa asal usul Rohingya sehingga bisa di Myanmar dan kenapa Rohingya mengungsi? 

Etnis Rohingya adalah salah satu etnis terbesar di dunia yang tidak memiliki kewarganegaraan. Pasalnya, meski tinggal di Myanmar, pemerintah negara tersebut tidak mengakui etnis Rohingya sebagai warga negaranya. 

Para pengungsi Rohingya ini kemudian melarikan diri dan mendatangi sejumlah negara termasuk Indonesia dan Malaysia. Di Indonesia, pengungsi Rohingya mengalami penolakan dari masyarakat Aceh. 

Asal Rohingya

Arakan terletak di perbatasan Barat Burma, dekat tempat yang sekarang disebut Bangladesh. Pada 1400-an sudah mulai ada umat Islam yang menetap di Arakan. 

Pada waktu itu, raja-raja Arakan meniru model kaisar Mughal dengan menggunakan gelar raja muslim untuk pejabat militer dan istana mereka. 

Dirangkum dari laman ThoughCo, banyak orang Islam di Arakan yang bertugas di istana Raja Narameikhla (Min Saw Mun) yang beragama Budha, yang memerintah Arakan pada tahun 1430-an. 

Kemudian, pada 1785, umat Buddha Burma dari selatan negara itu menaklukkan Arakan. Mereka mengusir atau mengeksekusi semua pria muslim Rohingya yang mereka temukan. 

Sekitar 35.000 penduduk Arakan kemungkinan besar melarikan diri ke Benggala, yang saat itu merupakan bagian dari Kerajaan Inggris di India.

Pada tahun 1826, Inggris menguasai Arakan setelah Perang Inggris-Burma Pertama (1824-26). Inggris memindahkan para petani dari Benggala untuk pindah ke daerah yang tidak berpenghuni di Arakan. 

Sehingga, di Arakan mulai dihuni oleh warga Rohingya yang berasal dari daerah tersebut maupun warga asli Bengali. Masuknya imigran dari India ini secara tiba-tiba memicu reaksi keras dari masyarakat Rakhine yang sebagian besar beragama Buddha yang tinggal di Arakan. 

Hal itu membuat munculnya benih ketegangan etnis yang masih ada hingga saat ini. Ketika Perang Dunia II pecah, Inggris meninggalkan Arakan karena ekspansi Jepang ke Asia Tenggara.

Mundurnya Inggris dari Arakan membuat pecahnya perang etnis antara penduduk Muslim dan Buddha. Terlebih lagi, banyak orang Rohingya yang masih mengandalkan Inggris untuk mendapatkan perlindungan. 

Mereka juga banyak yang menjadi mata-mata bagi Inggris. Ketika Jepang mengetahui hubungan ini, mereka mulai melakukan penyiksaan, pemerkosaan dan pembunuhan yang mengerikan terhadap etnis Rohingya di Arakan. 

Puluhan ribu warga Rohingya di Arakan kemudian mengungsi ke Bengal. Antara akhir Perang Dunia II dan kudeta Jenderal Ne Win pada tahun 1962, masyarakat Rohingya menganjurkan pembentukan negara Rohingya yang terpisah di Arakan. 

Namun, ketika junta militer mengambil alih kekuasaan di Yangon, mereka menindak keras warga Rohingya, kelompok separatis, dan orang-orang non-politik. 

Mereka juga menolak kewarganegaraan Burma bagi orang-orang Rohingya, dan mendefinisikan mereka sebagai orang Bengali yang tidak memiliki kewarganegaraan.

Mengapa Rohingya Mengungsi?

Pemerintah Myanmar tidak mengakui orang-orang Rohingya sebagai warga negara. Sebagai orang yang tidak memiliki negara, etnis Rohingya menghadapi penganiayaan yang kejam di Myanmar, dan juga di kamp-kamp pengungsi di negara tetangga Bangladesh. 

Menurut laporan UNHCR, Rohingya telah mengalami kekerasan, diskriminasi, dan penganiayaan selama puluhan tahun di Myanmar.

Eksodus terbesar mereka dimulai pada Agustus 2017 setelah gelombang kekerasan besar-besaran terjadi di Negara Bagian Rakhine, Myanmar, yang memaksa lebih dari 742.000 orang, setengahnya adalah anak-anak, yang mencari perlindungan di Bangladesh. 

Seluruh desa dibakar habis, ribuan keluarga dibunuh atau dipisahkan dan pelanggaran hak asasi manusia besar-besaran dilaporkan terjadi.

Hal ini yang membuat masyarakat Rohingya memilih untuk melarikan diri dan mencari suaka ke negara terdekat untuk menyelamatkan diri. 

Dalam usaha mereka melarikan diri, warga Rohingya berlayar menggunakan kapal kayu dan peralatan seadanya. Menurut data dari Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), terdapat lebih dari 1 juta warga Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar.

Setelah terombang-ambing di lautan, warga Rohingya lantas mendarat di garis pantai wilayah terluar sejumlah negara termasuk di Aceh, Indonesia.[*]

kontan.co.id