21 Juni 2024

batasnegeri.com

Membangun Indonesia dari Pinggiran

Soekarno Pernah Perintahkan Marinir Lawan Malaysia dan Inggris

BatasNegeri – Di zaman Pemerintahan Presiden Soekarno, Indonesia sungguh sangat disegani, bahkan tidak segan-segan, pasukan militer Malaysia dan Inggris pun ditantang berperang oleh Indonesia.

Semua berawal dari kekesalan Soekarno terhadap Malaysia yang inginkan membentuk wilayah teritorial sendiri hingga tercetusnya Operasi Dwikora.

Hubungan Indonesia-Malaysia memanas. Bung Karno murka ketika mendengar niat negara tetangga ingin menggabungkan Brunei, Sabah, dan Serawak menjadi wilayah teritorialnya.

Di hadapan ribuan orang, 3 Mei 1946, Bung Besar berpidato mengencam tindakan Malaysia. Ia meminta para hadirin untuk tak ciut nyali menghadapi rongrongan “Macan Malaya”.

Keinginan Malaysia mendirikan Negara Federasi Malaysia, menurut Petrik Matanasi dan Huda Kurniawan yang dikutip TribunJambi.com dalam buku Hantu Laut; KKO-Marinir Indonesia, dinilai tak masuk akal.

“Malaysia adalah boneka Britania (Inggris Raya),” kata Soekarno seperti dikutip Matanasi.

Tak lama berselang, Filipina mengambil sikap. Mereka mengikuti langkah Bung Karno. Menolak rencana itu.

Bung Karno secara terang benderang menempuh jalur militer dengan sandi operasi Dwikora.

Operasi tersebut dilakukan hampir di sepanjang perbatasan Indonesia-Malaysia. Korps Komando Angkatan Laut (KKO AL) turut ambil bagian pada Operasi Dwikora.

Saat Marinir Beraksi

Sebelum diterjunkan ke medan perang, prajurit-prajurit Marinir kembali dilatih di Cisarua selama sebulan.

Persiapan matang mesti dilakukan seperti kesiapan fisik dan mental. Setelah itu, satuan-satuan KKO mulai dikirim ke beberapa tempat seperti Kepulauan Riau serta perbatasan utara antara Sabah dan Kalimantan Timur.

“KKO beberapa kali berhasil melakukan infiltrasi terhadap lawan. Operasi pendaratan di Pontian Johor yang dipimpin oleh Sersan Dua Mursid dan Sersan Dua A Siagian adalah salah satu operasi yang berhasil,” tulis Matanasi dan Kurniawan dalam bukunya.

Pada Agustus 1946, para pasukan melakukan penyusupan. Risiko berbahaya tak lagi dipikirkan. Tapi ada pertimbangan. Yang terpenting bikin lawan tunggang langgang.

Tak dinyana pasukan penyusup dari Indonesia kehilangan beberapa anggota timnya. “Meski juga berhasil menembak mati anggota musuh; Tentara Diraja Malaysia.”

Sementara itu, di Kalabakan pasukan penyusup Marinir berhasil menewaskan seorang perwira berkebangsaan Inggris ditambah delapan orang dari Rejimen Askar Melayu Diraja. “Sedangkan 18 orang lainnya luka-luka.”

Pasukan lawan mulai bertumbangan. Banyaknya korban dari pihak Malaysia seolah membuktikan bahwa mereka tidak siap menghadapi serangan anggota KKO.

“Pasukan Sersan Rebani di Kalakaban juga berhasil merampas 1 bren, 7 senapan otomatis ringan, 10 stengun, dan sebuah pistol.”

Empat Marinir Lawan Tentara Satu Kapal

Demi menjaga integritas negara, pasukan KKO semakin memperketat kawasan. Salah satunya melakukan patroli rutin di perairan perbatasan Riau dan Singapura.

Celakanya para pasukan yang bertugas menemui kendala. Mesin kapal mereka mendadak rusak.

Prajurit K Suratno bersama tiga anggotanya; Wahadi, Riyono, dan Muhani sempat khawatir. Mereka terombang-ambing di tengah lautan. Malangnya, arus air membawa para Marinir ke arah Singapura.

Arkian mereka mendayung melawan arus menjauh dari batas teritori Singapura.

Saat itu, malam sangat gelap. Tidak seperti biasanya. Tidak ada sumber cahaya yang dapat mereka gunakan.

Hanya sinar remang-remang yang terpantul dari langit ke permukaan laut, yang menjadi penerang jalan. Mereka tak boleh menyerah. Dayung mesti tetap dikayuh.

Hal tersebut terang menyulitkan para Marinir mengindentifikasi kapal-kapal yang tengah berlayar.

Termasuk ketika mereka salah memberhentikan kapal untuk dimintai tolong.

Matanasi dan Kurniawan dalam buku Hantu Laut menceritakan, di antara gelapnya malam tersebut sebuah kapal melintas di depan kapal kecil yang ditumpangi Marinir.

Prajurit-prajurit muda itu sontak berhenti mendayung, dan segera merapat ke dinding kapal. “Namun, kapal yang mereka tempeli adalah kapal perang milik tentara Malaysia, bernama Sri Selangor.”

Pasukan di kapal Sri Selangor berteriak memperkenalkan diri. Kemudian bertanya kepada Marinir tentang jati diri mereka.

“Pasukan Marinir kaget bukan alang kepalang.” Tapi mental ksatria tetap mereka tunjukkan. Teriakan balasan pun dilantangkan.

“Para anggota KKO menjelaskan tentang diri serta tujuan mereka sebenarnya, dan yang ingin pulang ke Indonesia,” tulis Matanasi dan Kurniawan. Kontan saja hal itu membuat para penumpang kapal Sri Selangor terperangah. Pasukan Malaysia menganggap ada “santapan lezat di depan mata”.

Kapal kecil yang ditumpangi anggota KKO jelas merupakan sasaran empuk tembakan kapal tentara Malaysia. Tak lama kemudian sorotan lampu kapal yang terang dan tajam diarahkan ke perahu anggota KKO. Pun diselingi perintah untuk menyerah.

Keadaan tersebut jelas tidak menguntungkan Marinir. Mau menyerah, tak mungkin. Sebagai seorang ksatria, mereka justru memilih perang. Tak peduli persenjataan kurang. Mereka menjawabnya dengan tembakan salvo ke arah kapal Sri Selangor.

Mendapat serangan dari anggota Marinir, tentara Malaysia terperangah. Mereka tak mengira nyali para Marinir begitu besar. Bahkan di atas standar manusia lainnya. Empat pasukan melawan satu kapal besar.

Kapal Sri Selangor kemudian menjauh. Kabur? Tidak. Mereka sedang membuat jarak tembak efektif. “Selanjutnya, Sri Selangor berusaha menerjang perahu yang ditumpangi para anggota KKO.”

Dengan tangkas mereka segera meloncat ke laut sebelum ditabrak. Perahu pun terbalik. Kemudian dimanfaatkan oleh para prajurit untuk bersembunyi.

Sri Selangor lantas pergi meninggalkan mereka. Namun, nahas. “Prajurit K Suratno meninggal dan jasadnya tidak ditemukan oleh ketiga anggotanya yang berhasil selamat.”[*]

tribunnews