23 Juni 2024

batasnegeri.com

Membangun Indonesia dari Pinggiran

Warung Kamtibmas, Pengobat Rindu Bagi Mereka Yang Ingin Sekolah

BatasNegeri – Sebuah bangunan semi permanen di RT 18 Nunukan Timur kabupaten Nunukan Kalimantan Utara menjadi alternatif bagi anak-anak yang rindu bangku sekolah.

Bangunan seluas 10 x 20 m ini disebut warung Kamtibmas, yang merupakan kependekan dari Keamanan dan Ketertiban Masyarakat, bukan warung sebagaimana umumnya. Warung Kamtibmas hanya menyediakan menu informasi. Di warung ini, segala persoalan baik perdata, pidana, maupun silang sengketa rumah tangga diselesaikan.

‘’Setiap hari puluhan anak anak datang ke sini, mereka membawa buku PR dan meminta pembimbing di sini mengajari mereka,’’ujar Hasanuddin (45) ketua RT 18 Nunukan Timur, Minggu (19/7/2020).

Kami Tetap Semangat Mengajar Anak sekitar berkeliaran tak sekolah Warung Kamtibmas dibangun dengan banyak tujuan.

Di kampung ini, tindakan pidana tercatat cukup tinggi, sementara mayoritas penduduk di wilayah ini adalah buruh ikat tali dan pemukat rumput laut dan sebagian penjual asongan di pelabuhan Tunon Taka Nunukan.

Pelabuhan ini juga menjadi dermaga bagi kapal rute Nunukan-Tawau negara bagian Sabah Malaysia. RT 18 Nunukan Timur dulunya adalah wilayah sabung ayam.

Lokasi warung Kamtibmas berdiri merupakan bekas kandang ayam sabung.

Atas ketelatenan personil kepolisian dalam melakukan sosialisasi, pemilik lahan merelakan lahannya untuk dipugar dan dijadikan bangunan serba guna. Penggagas dari program ini adalah eks Kepala Kepolisian Sektor Kawasan Pelabuhan (KSKP) Tunon Taka Nunukan AKP Iberahim Eka Berlin.

Masyarakat yang apatis dengan kondisi anak-anak mereka yang tidak sekolah melatarbelakangi gagasan tersebut.

‘’Banyak sekali anak kecil berkeliaran di dermaga pelabuhan di jam sekolah, mereka dibawa orangtuanya. Tentu sangat berbahaya sekali anak kecil dibiarkan berlarian di dermaga, bisa terjatuh ke laut.

Ternyata, mereka banyak yang tidak sekolah, makanya kita carikan solusi dengan warung Kamtibmas,’’ujar Berlin saat dihubungi.

Secara perlahan warung Kamtibmas yang berdiri sejak 2017 ini menjadi ujung tombak KSKP Nunukan dalam meminimalisir tindak pidana. Tidak ada lagi aktivitas sabung ayam atau mabuk-mabukan karena anggota Polsek KSKP berjaga di warung ini.

Banyak penyelesaian masalah sampai kepengurusan dokumen dilakukan di sini. Mengobati kerinduan Di masa pandemi Covid-19, warung Kamtibmas menjadi tujuan anak anak sekitar mengobati kerinduan mereka akan bangku sekolah. Selain anggota polisi, mahasiswa KKN seringkali berkontribusi mengajar.

Belajar daring pun bukan lagi menjadi kendala berarti meski semua orangtua murid di warung Kamtibmas merupakan anak-anak buruh ikat rumput laut dan pedagang asongan yang termasuk masyarakat ekonomi rendah.

‘’Beberapa anak yang belajar di sini ada yang tidak sekolah, mereka dibimbing oleh pengajar, ada polisi dan mahasiswi, jadi secara tidak langsung warung Kamtibmas punya andil dalam pemberantasan buta huruf,’’lanjut Hasanuddin.

Banyak anak tidak punya dokumen kependudukan  Adanya anak-anak yang tidak sekolah di daerah ini disebabkan nihilnya dokumen kependudukan yang membuat mereka tidak bisa mendaftar sekolah. Sebab, banyak dari warga berpendidikan rendah sehingga mereka belum memahami pentingnya arti dokumen bagi anak anaknya.

Setelah mendaftar menjadi murid di warung Kamtibmas, KSKP lalu mengusahakan dokumen mereka, menggandeng Dinas Pencatatan Sipil lalu mendaftarkan mereka ke sekolah negeri. Tercatat ada sekitar 9 anak yang disekolahkan dari 30 murid warung Kamtibmas yang aktif. Semua biaya dan perlengkapan sekolah ditanggung personel KSKP secara swadaya.

Mereka menyisihkan gaji mereka setiap bulan untuk kebutuhan ini. ‘’Saat pandemi, proses belajar tetap berjalan dengan protokol Covid-19, pokoknya asal anak anak mau datang, tugas sekolah selesai.

Meski pandemi, antusiasme anak anak cukup menggembirakan, mereka sangat semangat, apalagi dengan WiFi gratis yang ada di sini mereka bisa main bareng game online,’’kata Hasanuddin lagi.

Sejumlah murid di warung Kamtibmas, Lena (15), Rafikawati (11) dan Atifah (9), juga mengaku sangat senang. Selain menyediakan Wi Fi gratis, para pengajar memberikan bimbingan dengan santai dan menceritakan kisah kisah menarik.

‘’Enggak perlu minta uang ke mamak kalau mau online, datang saja, yang penting harus ikut belajar di sini, yang tak punya HP bisa gantian pula main, jadi senanglah pastinya.’’kata mereka. (kompas)