23 Februari 2024

batasnegeri.com

Membangun Indonesia dari Pinggiran

Di Tengah Pandemi, Indonesia Dongkrak Pendapatan dari Laut

BatasNegeri – Meski negeri ini masih dilanda pandemi Covid-19, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) selama tahun 2021 mampu bangkit dengan mencetak sejarah perolehan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tertinggi sepanjang masa mendekati angka Rp 1 triliun. Meningkat hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya di angka Rp 600-an miliar.

Kinerja ekspor juga gemilang. Sepanjang Januari-Oktober 2021 mampu mencatatkan nilai US$ 4,56 atau melesat 6,6% dari periode sebelumnya, meski di pertengahan tahun dunia dilanda gelombang kedua COVID-19. Komoditas unggulan ekspor terdiri dari udang (40%), tuna cakalang tongkol (13%), rajungan kepiting (11%), cumi sotong gurita (10%), dan rumput laut (6%). Sedangkan negara tujuan terbesar adalah Amerika Serikat, China, Jepang, Asean, dan Uni Eropa.

Kemudian nilai tukar nelayan, pembudidaya, petambak garam turut merangkak naik walaupun belum mencapai angka terbaik. Targetnya, angka yang saat ini seratusan bisa tumbuh seratus persen sehingga membuktikan bahwa pelaku utama sektor kelautan dan perikanan benar-benar sejahtera hidupnya.

Rangkaian capaian di atas membuktikan bahwa langkah KKP memperbaiki regulasi dan mengedepankan inovasi teknologi dalam memberi kemudahan layanan ke tengah masyarakat, berbuah manis. Untuk semua pencapaian itu, kementerian KKP patut mendapatkan apreasiasi.

Ke depan, Kementerian KKP agar terus melakukan akselerasi untuk memastikan produk perikanan terjaga mutu dan kualiatasnya sampai ke tangan masyarakat konsumen.

Akselerasi

KKP sudah menyiapkan tiga program terobosan yang implementasinya akan diakselerasi pada tahun 2022. Produk perikanan berkualitas tentunya bukan satu-satunya tujuan dari penerapan program terobosan ini. Bentuk program terobosan yang akan diakselerasi adalah penerapan kebijakan penangkapan terukur di 11 Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI), pengembangan budidaya perikanan untuk komoditas berorientasi ekspor (udang, lobster, kepiting, dan rumput laut), serta pembangunan 130 kampung perikanan budidaya berbasis kearifan lokal, dan 120 kampung nelayan maju.

Implementasi turunan tiga program terobosan tentu memiliki sejumlah tantangan, mulai dari kesiapan infrastruktur, kualitas sumber daya manusia (SDM), sampai pada kekuatan teknologi. Namun tantangan bukanlah halangan, sehingga implementasinya tetap berjalan sesuai waktu yang telah direncanakan.

Untuk akselerasi ini, selain mengandalkan anggaran belanja KKP, juga memperkuat kolaborasi dengan sesama kementerian, pemerintah daerah, pelaku usaha, hingga investor utamanya dari dalam negeri. Kolaborasi mencakup berbagai bidang, seperti penyiapan lahan untuk pengembangan budidaya udang, pembangunan sarana prasana pelabuhan perikanan, penguatan sumber daya manusia, penerapan teknologi informasi, maupun pengawasan sumber daya alam laut.[*]