2 Maret 2024

batasnegeri.com

Membangun Indonesia dari Pinggiran

Jalur Penerbangan Manado - Davao City

Nilai Strategis Kerjasama Perbatasan Indonesia – Filipina bagi Pembangunan Kawasan Timur Indonesia

BatasNegeri – Presiden RI Joko Widodo melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Filipina Bongbong Marcos di Manila saat kunjungan kenegaraan pekan lalu.

Salah satu hal penting yang dibahas mengenai kerja sama dengan agenda keamanan serta peningkatan perdagangan di perbatasan antara Indonesia dengan Filipina.

“Yang menarik dalam pertemuan ini adalah bahwa Jokowi meminta dukungan Filipina untuk pengenaan atau penerapan saveguard measure atau tindakan perlindungan untuk melindungi ekspor kopi dari Indonesia ke Filipina agar tidak dikenakan tarif yang tinggi,” ungkap Theofransus Litaay Ph.D, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden dalam keterangan persnya yang diterima media ini, Senin (15/1/2024).

Menurutnya, dilihat dari data yang ada sampai dengan saat ini, ekspor Indonesia ke Filipina sejak beberapa tahun terakhir year on year mengalami kenaikan yang cukup signifikan.

Sampai dengan terakhir tahun 2022 ekspor Indonesia naik sekitar 50% dengan nilai sekitar 12,9 miliar dolar. Kemudian impor Indonesia dari Filipina itu juga mengalami kenaikan sekitar 17,33% dengan nilai 1,49 miliar dolar.

Data ini menunjukkan bahwa perdagangan Indonesia masih mengalami surplus dengan Filipina.

“Kita tahu bahwa Indonesia dan Filipina sebenarnya telah lama memiliki hubungan perbatasan di bagian kawasan Timur Indonesia, khususnya bagian utara Sulawesi dengan pulau-pulau yang ada di bagian selatan Filipina. Misalnya perjanjian BIMP-EAGA. Oleh karena itu, kunjungan Presiden dan kerjasama antara Indonesia dengan Filipina merupakan momentum yang baik untuk ditingkatkannya ekspor dari kawasan Timur Indonesia ke negara-negara lain,” bebernya.

Sebagai contoh, lanjut Litaay, jalur penerbangan antara Kota Manado dan Davao City bila dihubungkan dengan satu penerbangan internasional Indonesia (misalnya Garuda atau Citilink) yang tentu akan membuka ruang bagi ekspor produk-produk Indonesia, termasuk juga hasil bumi, produk manufaktur, dan produk kerajinan.

“Dari sini kita melihat biaya bisa ditekan lebih rendah dengan adanya penerbangan langsung melalui Davao International Airport dan biayanya lebih murah dibanding melalui Singapura,” tandasnya.

Olehnya itu, fakta ini merupakan peluang bagus yang perlu dimanfaatkan oleh provinsi-provinsi yang ada di Kawasan Timur Indonesia untuk dioptimalkan.

“Sehingga ini akan memperkuat kerjasama antara kedua negara, Indonesia dan Filipina,” pungkasnya.[*]