23 Juni 2024

batasnegeri.com

Membangun Indonesia dari Pinggiran

Selain Taman Nasional, Masih Banyak “Jamrud” Tersembunyi di Krayan

BatasNegeri  Pulau Kalimantan bukan hanya menghadiahkan lebatnya hutan sebagai salah satu paru-paru Dunia. Namun lebih dari itu, Kalimantan juga mempunyai kekayaan peradaban dan keindahan alam yang tersebar di wilayah-wilayah yang jarang diketahui, ibarat zamrud yang tersembunyi oleh pandangan dunia.

Krayan yang terletak di Kabupaten Nunukan, Kalimanan Utara dan berbatasan dengan Serawak dan Sabah, menyembunyikan beragam keindahan dan keunikan yang tak dimiliki oleh wilayah di Kalimantan pada umumnya.

Tidak hanya keunikan budaya dan keramahan penduduknya, di wilayah seluas 1.837,54 km² ini juga menyajikan berbagai kekayaan hayati berpadu dengan kearifan lokal Dayak Lundayeh sehingga sampai kini alam Krayan tetap lestari.

Sebagian wilayah Krayan masuk kawasan Taman Nasional Krayan Mentarang yang merupakan hutan yang masih terjaga keasrianya. Hal tersebut menjadikan daerah Krayan sering menjadi pusat penelitian sejumlah lembaga nirlaba internasional dan berpotensi besar menjadi daerah tujuan pariwisata.

Beberapa Air Terjun sepeti Paramayo di Desa Lembudud dan di Air Terjun di desa Pa’ Padi serta bebatuan alam yang indah seperti memanggil untuk memecahkan misteri yang tertulis dipermukaan batu alam tersebut.

Begitupun dengan masyarakatnya, suku Dayak Lundayeh adalah etnis yang masih teguh memegang tradisi leluhur serta masih menjaga adat istiadat ketimuran sebagai bagian dari khasanah Nusantara. Senyum ramah senantiasa terukir pada setiap tamu yang datang sehingga jalinan silaturahim tampak semakin akrab membuat siapapun akan betah dalam bercengkerama.

Beras Adan Krayan

Krayan memiliki komoditi yang yang sangat femomenal yakni Beras Adan. Beras yang dihasilkan dari padi organik ini selain memiliki cita rasa yang lezat, juga menyimpan kandungan gizi yang tinggi.

Beras Adan merupakan salah satu beras dengan kualitas terbaik diantara varietas padi lokal lain yang hingga saat ini masih dibudidayakan di Krayan dan daerah dataran tinggi lainnya.

Terdapat tiga varietas yang berbeda : Putih, merah dan hitam. Beras ini terkenal dengan biji-bijian kecil dan halus serta rasa yang enak, aromanya harum setelah dimasak. Rasanya pulen dan sedap meskipun dilahap tanpa lauk pauk dan sayuran. Tingginya karbohidrat (varietas putih) dan kandungan mineral (varietas hitam) membuat beras ini mampu memberikan kontribusi untuk nilai gizi yang sangat baik.

Sistem pertanian yang digunakan untuk menghasilkan beras Krayan memang unik. Sejak zaman dahulu, secara turun temurun, pola pertanian dipakai membudidaya beras Krayan, adalah pola yang sesuai budaya masyarakat Krayan, yaitu secara organik.

Sebagaimana masyarakat budaya yang tak lepas dari sistem kearifan lokal yang bertumpu pada keadaan siklus alam dan pola ramah lingkungan, masyarakat Krayan menanam padi di atas lahan sawah tradisional. Kondisi alam diantara lembah dan ngarai membuat beras Krayan berbeda dengan daerah lain.

Dalam 1 kali masa panen, sedikitnya bisa menghasilkan 9 ton dari 3 ribu hektar sawah. Perkilonya dijual senilai RM39 untuk Malaysia, sedangkan untuk wilayah lokal Kalimantan dijual senilai Rp25 ribu/kg. Kecenderungan masyarakat Malaysia terhadap beras dengan kwalitas super ini pernah menyebabkan klaim bahwa Beras Adan adalah hasil tani wilayah Malaysia. Hal tersebut tentu bukan hanya sangat merugikan para Petani tapi juga menggores kedaulatan.

Garam Gunung

Tanah Krayan memang spesial. Tidak hanya ditumbuhi oleh beras organik saja, mereka juga punya garam gunung. Ya, garam yang benar-benar diproduksi di pegunungan.

“Menurut hasil penelitian Universitas Padjajaran beberapa waktu lalu, garam Krayan sangat unik, mulai dari letaknya maupun potensinya. Konon, garam gunung ini adalah air asin yang terjebak karena proses geologi yang terbentuk jutaan tahun yang lalu, dimana pada saat itu Krayan ada di dasar samudra,” ungkap Camat Krayan Induk, Helmi Huda Asfikar.

Dijelaskan, proses geologi yang lama, terjebaklah air asin di terowongan yang sangat panjang yang mereka sebut dengan jaringan sabuk Pegunungan Kuching. Sehingga sumur-sumur garam itu terdapat di perbatasan Indonesia memanjang sampai ke wilayah Malaysia.

Rasa dari garam gunung tak jauh berbeda dengan garam dari air laut. Namun ciri khas tersendiri menjadikan garam Krayan begitu mudah masuk ke pasar negara tetangga, seperti Sabah-Serawak dan Brunei.

Garda Depan NKRI Yang Terisolir

Namun untuk menjangkau wilayah yang saat ini terbagi dalam 5 Kecamatan tersebut bukan hal yang mudah. Satu-satunya akses tansportasi menuju Krayan hanyalah melewati udara karena jalan darat hingga kini tak kunjung sampai kewilayah ini. Keterbatasan Pesawat dan mahalnya ongkos yang mencapai 1,5 juta rupiah menjadi persoalan tersendiri masyarakat Krayan pada umumnya.

Memang sungguh ironis, sekitar 8 ribu jiwa diwilayah yang kaya sumber daya alam tersebut sejak Indonesia merdeka hingga hari ini tak pernah merasakan insfratruktur sebagaimana daerah lain. Padahal Krayan adalah salah satu dari garda depan Negara Kesatuan Repubik Indonesia.

Marli Kamis, seorang Tokoh Adat Dayak Lundayeh menuturkan hal yang lebih miris lagi. Jalan penghubung antar Desa di wilayah ini juga masih menjadi hal yang langka. Bahkan menurut Pria yang juga menjabat sebagai anggota DPRD Kabupaten Nunukan ini, ada sebagian masyarakat Krayan yang sampai sekarang tak pernah melihat wujudnya aspal.

Disinilah semua pihak terutama Pemerintah harus mengambil sikap. Karena apabila ada kemauan Pemerintah, maka pembuatan jalan dari Malinau – Krayan bukanlah sebuah kemustahilan. Disamping sebagai pemerataan pembangunan yang berkeadilan, juga sebagai peneguhan atas misi Nawacita yang membangun dari pinggiran.

Selain itu, apabila akses jalan dapat dibuka, hal tersebut bukan hanya memangkas ketergantungan masyarakat Krayan terhadap produk-produk dari Negara tetangga, namun juga dapat menjadi pendongkrak ekonomi Perbatasan pada sektor Pariwisata.[Foto-berbagai sumber]

nusantaranews