23 Juni 2024

batasnegeri.com

Membangun Indonesia dari Pinggiran

Angga dan Adnan, Bikers dari Jakarta ke Perbatasan RI-RDTL

BatasNegeri – Sejak berangkat dari Jakarta pada 14 Agustus lalu, Angga dan Adnan yang geber Suzuki GSX150 Bandit sudah menempuh jarak hingga ribuan kilometer. Hingga Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) keduanya sudah menempuh jarak 2.780 kilometer. Meski begitu, Suzuki GSX150 Bandit belum menunjukkan penurunan performa.

Padahal rute yang mereka lalui bervariasi, mulai dari Pulau Jawa dengan kemacetan di berbagai titik hingga Pulau Sumbawa yang memiliki cuaca panas dan Flores yang berkontur naik turun gunung. “Suzuki GSX150 Bandit benar-benar kami siksa hingga batas limit,” ungkap Angga.

Sesampainya di Kupang, Suzuki GSX150 Bandit langsung masuk ke bengkel resmi Suzuki Surya Mahkota Kencana. Di bengkel tersebut, mekanik memeriksa secara detail Suzuki GSX150 Bandit mulai dari penggantian oli dengan Pertamina Enduro type Racing SAE10-40, cek kekencangan semua baut, air radiator dan ketebalan kampas rem serta saringan udara.

Mekanik sempat tercengang saat melakukan pemeriksaan Suzuki GSX150 Bandit. Seperti saat melihat ketegangan rantai yang belum mengendur sama sekali, bisa dipastikan sejak berangkat dari Jakarta hingga Kupang, Suzuki GSX150 Bandit masih dalam kondisi fit dan prima.

Setelah selesai servis, Angga dan Adnan akhirnya melanjutkan perjalanan menuju Timor Leste. Kedua bikers ini mengunjungi beberapa pintu perbatasan yang ada, yaitu pintu perbatasan Wini, pintu perbatasan Motamasin dan pintu perbatasan yang mereka lalui, Border Motaain.

Untuk menuju perbatasan wini, rute yang dilalui tidak mudah. Selepas Kupang hingga daerah Kefamenanu, angin berhembus sangat kencang dari arah timur. Bahkan tiupan angin dari sisi samping kanan dan kiri terkadang membuat mereka oleng meskipun tidak sampai membahayakan. Namun hal itu cukup membuat mereka ekstra hati-hati.

“Memasuki wilayah Wini, suguhan bukit batu berwarna hitam memyambut kami. Sesekali kami melintasi rumah adat yang masih kokoh berdiri dengan atap rumbia keringnya. Memasuki Border Wini kami hanya berfoto di sini, setelah puas mengabadikan moment kami melanjutkan perjalanan menuju Kota Atambua,” cerita Angga.

Pada keesokan harinya, Angga dan Adnan melanjutkan perjalanan mengunjungi Border Motamasin. Di sini mereka sesekali disuguhi dengan jalan yang penuh lubang. Sesampainya di perbatasan Motamasin yang artinya Sungai Garam, mereka langsung berfoto ria.

“Di perbatasan ini sangat megah gedung lintas batas sisi Indonesia. Selesai berfoto kami kembali ke Kota Atambua untuk mempersiapkan diri menuju Timor Leste dari perbatasan Motaain,” tutup Angga.[*]

bikersnote