23 Juni 2024

batasnegeri.com

Membangun Indonesia dari Pinggiran

Zaimah, Perjuangan Guru Perahu di Perbatasan

BatasNegeri – Masih adakah seorang guru yang harus berburu murid agar ia utuh menjadi guru? Rupanya di pulau-pulau terluar di republik ini, hal itu masih jadi pemandangan biasa.

Zaimah, adalah seorang guru perahu. Disebut guru perahu karena dari tempat tinggalnya menuju tempatnya mengajar harus berperahu. Ombak besar dan kecil, sudah biasa ia terjang. Mengajar dengan pakaian basah teriprat air laut, hampir selalu terjadi.

Zaimah bukanlah guru negeri dengan sertifikasi yang gaji dan fasilitasnya oke. Ia adalah guru honorer di SMP N 48 Pulau Pecong, Kecamatan Belakang Padang kawasan Hiterland Kota Batam. Sudah empat tahun ia mengabdi sebagai guru honorer.

Mengawali karier sebagai guru honorer, Zaimah sendiri lahir dan dibesarkan dari daerah yang tergolong tertinggal dalam bidang pendidikan. Ia lahir dari masyarakat nelayan, dimana pendidikan bukan menjadi prioritas.

“Saya tak mau anak-anak di Pulau Pecong putus sekolah seperti teman-teman saya. Apalagi dulu anak – anak nelayan tidak diperhatikan urusan sekolahnya,” kata Zaimah.

Sebagai guru honorer, Zaimah mulai mengkampanyekan pentingnya pendidikan anak pulau. Zaimah tak sendiri, ia juga mengajak guru-guru lain berkampanye pentingnya pendidikan. Kini anak-anak Pulau Pecong mayoritas sudah bersekolah.

“Penduduknya memang sekitar 200 KK, jenjang sekolah TK sampai SMA juga sudah ada. Tapi memang tak seperti di Batam,” kata Zaimah.

Zaimah pandangannya menerawang seperti mengingat masa kecilnya. Ia lalu bercerita bahwa saat ia masih bocah, guru-guru yang mengajar didatangkan dari pulau lain. Guru-guru pendatang itu akhirnya banyak yang menikah dengan warga setempat.

“Ini juga memberi dampak bagus kesadaran pendidikan bagi pulau-pulau di perbatasan,” kata Zaimah.

Semangatnya Dirampok Gawai

Perjuangan Zaimah seperti mendapat suntikan energi. Adalah awal 2019 saat Hinterland atau pulau-pulau terluar mendapat prioritas pembangunan. Ditandai dengan masuknya listrik di pulau-pulau terluar itu.

Belum juga energi baik dari masuknya listrik bisa dioptimalkan, dukungan juga datang dari operator seluler yang mulai memprioritaskan pembangunan tower seluler. Namun yang kedua ini selain membawa manfaat, juga membawa dampak buruk.

“Pendidikan di Pulau Pecong mendapatkan masalah setelah gawai atau telepon pintar masuk dan menjadi racun bagi anak. Game mengakibatkan semangat belajar anak- anak tidak fokus dan menyepelekan pelajaran,” kata Zaimah.

Bercerita ini, mata Zaimah seperti menahan bendungan air. Sejurus nampak berkaca-kaca seperti menahan tangis. Barangkali ia teringat susahnya membangkitkan kesadaran akan pendidikan yang butuh waktu panjang, namun berantakan dalam sekejap.

Kegelisahan Zaimah menjadi bahan diskusi guru-guru di Pulau Pecong. Mereka sepakat untuk berkordinasi dengan sekolah secara kelembagaan. Sambil menunggu waktu yang tepat, Zaimah diam-diam mengawasi siswanya di luar jam sekolah.

“Di tempat kami sinyal susah, untuk mendapatkan sinyal harus di tempat yang tinggi. Dan saya menemukan anak-anak ramai-ramai berburu sinyal. Sedihnya bukan untuk berburu pengetahuan, namun untuk main game bareng,” katanya.

Aktivitas siswanya di luar jam sekolah ini memunculkan keberanian untuk mengumpulkan gawai milik murid-muridnya saat jam pelajaran. Tentu hal ini atas restu Kepala Sekolah sebagai bentuk dukungan lembaga.[*]

liputan6